Informasi di bawah ini menunjukkan bahwa "Pak Raden" dalam Unyil berasal dari Puger, Kabupaten Jember
Animasi dari Tangan Suyadi
5 01 2008
Namanya Suyadi. Lulusan Seni Rupa ITB tahun 1960. Kini ia termasuk salah satu animator yang masih sangat langka di Indonesia.
Animator adalah penggambar untuk film animasi. Jenis
film ini berbeda dengan film biasa. karena obyeknya bukan dipotret, tapi
digambar. Pada tahap pertama setiap gerak dari seluruh rangkaian cerita
digambar oleh animator di atas kertas-kertas gambar biasa. Kemudian
gambar-gambar tadi dipindahkan ke seluloid.
Pada tahap kedua, hanya garis tepi gambar saja yang
dipindahkan. Bidang kosong pada gambar diisi warna. Kemudian diberi
latar belakang. Setelah itu baru dipotret.
Banyak sekali gambar diperlukan. Untuk satu detik
gerakan gambar dalam film, diperlukan 24 buah gambar (frame). “Bayangkan
berapa gambar diperlukan untuk masa putar 5 menit,” kata Suyadi. Karena
itu untuk film dengan masa putar satu detik saja diperlukan waktu
sekitar sebulan untuk menggarapnya.
“Jadi ini memang kerja kolektip,” kata Suyadi lebih
lanjut. Karena itu ia juga memakai beberapa pembantu, misalnya untuk
mewarnai, memindahkan ke celuloid. Tapi dalam animasi modern, untuk satu
detik cukup 12 gambar – karena setiap gambar diulang sekali. Tapi
hasilnya tidak akan sehalus bila dengan 24 gambar.
Suyadi menjadi animator penuh sejak 1974. Sebelumnya
ia pernah terlibat sebagai art director untuk 5 buah film (Lampu Merah,
1969; Pemburu Mayat, 1970; Kabut di Kintamani, 1971; Cobra, 1977). Tapi
karir tersebut tidak dilanjutkannya. “Pekerjaan itu juga menuntut
kreativitas, tapi saya kurang sreg. Karena saya juga harus memperhatikan
kostum dan make-up pemain. Padahal saya ini kan tukang gambar,”
katanya. “Jadi, jadi animator inilah sesungguhnya profesi saya.”
la menggambar sejak masih mahasiswa dengan membuat
ilustrasi cerita anak-anak. Buku anak-anak yang sempat digarapnya antara
lain Joko Kendil, Made dan 4 Teman, Istana di Bukit Karang, Kisah
Fantasi H.C. Anderssen (6 jilid), Gua Terlarang, Iwan Jalan kaki ke
Sekolah dan Kebakaran di Gang Sembrono. Semua buku tersebut diterbitkan
PT Djambatan.
Ilustrasi buku Gua Terlarang kemudian dinilai sebagai
ilustrasi terbaik untuk buku anak-anak pada Tahun Buku Internasional
1972. Sedangkan buku Made dan 4 Temannya, oleh IKAPI dinilai sebagai
buku yang terbaik dari segi perwajahan untuk 1979.
Di samping membuat ilustrasi, Suyadi juga mengarang
cerita. Sudah 2 buku yang dikarangnya sendiri: Pedagang Pici Kecurian
dan Seribu Kucing Untuk Kakak. Keduanya juga diterbitkan Penerbit
Djambatan.
Berapa besar penghasilannya sebagai ilustrator?
Menurut Suyadi imbalannya didapat dengan sistem royalty – biasanya 10%
dari harga buku. Buku anak-anak umumnya dicetak hanya 5 ribu eksemplar
dengan harga paling mahal Rp 350 per buah. “Jadi hasilnya, yah, . . .
tidak seberapa, ” kata bujang tua itu dengan tenang. Tetapi kalau salah
satu buku ketiban Inpres misalnya, berarti ia dapat rezeki besar.
Seperti bukunya yang berjudul Gua Terlarang. “Untuk buku itu saya dapat
sekitar Rp 200 ribu,” ujarnya – karena dicetak sampai 22.000 eksemplar.
Dengan sederhana diakuinya bahwa ia bukan orang yang
mempersetan kepentingan publik dengan dalih mempertahankan nilai seni.
Karena itu, misalnya, setiap kali selesai menggambar kalau merasa ragu,
ia tak segan-segan menunjukkan hasilnya kepada anak tetangga.
“Seandainya anak itu menganggap gambar itu orang lagi sedih, padahal
yang saya maksudkan orang lagi ngelamun, maka gambar itu akan saya
ganti,” katanya. “Jadi saya ini bukan seperti seniman besar, yang tidak
mempersoalkan konsumen mengerti atau tidak.”
Suyadi sebagai Pak Raden dan anak-anak
KB & Pemilu
llustrasi yang dibuatnya kebanyakan ditujukan pada
anak-anak yang berpendidikan SD. Untuk mendapatkan hasil yang kira-kira
akan dapat dinikmati oleh rata-rata mereka, ia juga sering memilih anak
yang kecerdasannya sedang untuk menguji gambarnya. “Kalau anak itu tidak
bisa mengerti cerita hanya dengan melihat gambar, itu artinya saya
gagal,” tambah Suyadi.
Antara tahun 1961-1964, Suyadi dapat kesempatan
belajar di 2 studio di Prancis, yaitu di Les Cineastes Associes khusus
mempelajari iklan, dan di Les Films Martin-Boschet selama 3 tahun.
Pengalamannya di Prancis itu tentu saja amat berguna, karena ia juga
kemudian sempat membuat film animasi untuk iklan. Di antaranya iklan
obat jerawat. Dari iklan yang hanya 25 detik itu ia dapat Rp 350 ribu
untuk 15 detik pertama. Kemudian Rp 150 ribu untuk tiap 10 detik
berikutnya. “Ongkos prosesing, sewa studio dan lain-lainnya ditanggung
pemesan,” katanya dengan sedlklt bangga.
Dari segi penghasilan menjadi animator memang lebih
basah dari ilustrator. Barangkali ini sebagian alasan sehingga kemudian
Suyadi memantapkan diri sebagai animator. Sampai sekarang ia sudah
menghasilkan beberapa buah film. Antara lain Yang Banyak Jangan Anak
sebuah film tentang KB – dan Menantang Alam – film tentang banjir. Kedua
film tersebut disponsori Departemen Penerangan.
Pada 1977, ia juga mengerjakan 5 buah film yang
disponsori Lembaga Pemilihan Umum. Tiga film kartun, sebuah film boneka
dan satu film wayang kulit. “Kelimanya bercerita tentang apa-apa yang
perlu diperhatikan sewaktu pemilu,” katanya. Semuanya kemudian disiarkan
TVRI dalam minggu tenang. Untuk masing-masing film ia dapat setengah
juta. “Pokoknya bisa hidup layak. Yang sulit kalau lagi tidak ada
proyek,” kata lelaki itu menceritakan pekerjaannya.
Baginya untuk menjadi animator yang baik, harus lebih
dulu menjadi ilustrator yang baik. Perbedaannya hanya kalau ilustrator
hanya membuat sebuah gambar yang statis namun dapat menggambarkan
seluruh cerita, animator harus membuat banyak gambar mencakup semua
gerak secara terperinci. “Tapi keduanya bercerita dan menggambar.”
ujarnya.
Animator kita ini punya sederetan kesenangan.
Pertama-tama ia cinta anak-anak. Doyan nonton film kartun. Setiap pukul
5.15 ia pasti duduk di depan pesawat tv menyaksikan film kartun untuk
anak-anak. Ia juga suka mendalang. Binatang favoritnya adalah kucing.
Pada suatu hari ketika masih mengerjakan animasi
untuk film Pemilu ia sempat digoda binatang kesayangannya itu. Waktu itu
segalanya sudah mepet, meskipun semua gambar sudah diwarnai. Kemudian
seluloid dijejerkan satu per satu supaya cepat kering. Suyadi kemudian
istirahat, tidur.
“Paginya ketika bangun, gambar sudah penuh dengan
telapak kucing,” katanya sambil tertawa, “Ya saya tidak bisa marah sebab
itu binatang kesayangan saya. Saya hanya bisa marah kepada diri sendiri
mengapa tidak punya tempat yang bisa dikunci.” Akibatnya seluruh proses
pembuatan gambar harus diulang dari awal.
Kali lain, seluloid yang sudah dikeringkan dalam
rumah, basah kembali karena hujan. “Ya saya marah lagi pada diri
sendiri, kenapa tidak menyewa rumah yang tidak bocor,” kata bujangan itu
sambil tersenyum. Apakah ini berarti hidup seorang animator masih
rawan? Sebetulnya kalau lagi ada proyek, lumayan hasilnya,” jawab Suyadi
terus-terang.
Untuk mendapat obyekan secara kontinyu, ia pernah
pasang iklan, tapi ternyata tidak ada yang datang. Sekarang ia tetap
bekerja berdasarkan informasi kawan-kawannya saja.
Kini Suyadi sedang menggarap film boneka untuk serial
tv. Judulnya Si Unyil, bekerjasama dengan PFN. Diperkirakan akan
disiarkan tahun depan, sekali seminggu untuk 10 menit. Seluruh biaya
hanya Rp 4 juta. Ia tak mau menjelaskan berapa bagiannya. “Jangan ah,
filmnya belum selesai,” kilahnya. “Tukang gambar adalah koki – yang
perlu itu bukan orangnya, tapi masakannya.
Sumber: Majalah “Tempo” No. 32 Thn. X 4 Oktober 1980, hal. 28-29