Senin, 30 Maret 2026

BENTURAN PERADABAN : ANALISIS PANDANGAN DUNIA (WORLDVIEW) DALAM KONFLIK DAN PERANG ANTARA IRAN DENGAN AMERIKA DAN ISRAEL

By. Y.Setiyo Hadi (Mas Yopi) @edukatortambeng

Email: setiyohadi2012@gmail.com

 


ABSTRAK

Analisis mendalam terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah menunjukkan bahwa konflik antara Republik Islam Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan sekadar persaingan material atas sumber daya energi, pengaruh politik regional, atau proliferasi nuklir, melainkan sebuah benturan fundamental antar pandangan dunia (worldview) yang berfungsi sebagai lensa interpretatif dalam menentukan kawan, lawan, dan makna dari realitas internasional. Iran mengadopsi worldview teologi-revolusioner yang berakar pada konsep Wilayat al-Faqih dan narasi sejarah Karbala, di mana perjuangan melawan Amerika Serikat yang dijuluki sebagai "Setan Besar" dan Israel sebagai entitas ilegal dipandang sebagai misi suci untuk membela kaum tertindas (mustadh’afin) melawan para penindas (mustakbirin), yang memberikan dimensi eskatologis dan transendental pada setiap kebijakan luar negerinya. Di sisi lain, Amerika Serikat membawa worldview yang merupakan perpaduan kompleks antara liberalisme tatanan global berbasis aturan, nasionalisme, dan pengaruh kuat kelompok evangelis domestik yang melihat eksistensi Israel sebagai bagian dari rencana ilahi akhir zaman, sehingga menempatkan Iran dalam dikotomi moral "baik versus jahat" yang memperkaku ruang diplomasi. Sementara itu, Israel dipandu oleh worldview keamanan eksistensial yang traumatis akibat pengalaman kolektif Holocaust dan diaspora panjang, yang melahirkan doktrin pertahanan preventif agresif di mana setiap ancaman dari Iran dan proksinya dianggap sebagai ancaman genosida yang tidak dapat dinegosiasikan. Benturan ketiga worldview yang absolut dan bersifat zero-sum ini menciptakan kebuntuan sistemik, karena setiap tindakan militer atau sanksi ekonomi tidak lagi dimaknai sebagai instrumen politik rasional, melainkan sebagai manifestasi dari kebenaran moral masing-masing pihak. Akibatnya, konflik ini menjadi sangat resisten terhadap solusi diplomatik konvensional karena melibatkan identitas kolektif dan keyakinan mendalam yang tidak mengenal kompromi. Studi ini menyimpulkan bahwa tanpa adanya upaya serius untuk melakukan transformasi paradigma dan dialog antar-peradaban yang mampu menjembatani perbedaan makna ontologis ini, stabilitas global akan terus terancam oleh eskalasi yang dipicu oleh kesalahpahaman persepsi, di mana perdamaian sejati hanya mungkin dicapai jika para aktor mampu melihat melampaui narasi absolut yang selama ini mengunci mereka dalam siklus kekerasan yang tak berujung.

Kata Kunci: Worldview, Geopolitik, Iran, Amerika Serikat, Israel, Teologi Revolusioner, Keamanan Eksistensial, Benturan Peradaban.

 

PENDAHULUAN

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel merupakan salah satu dinamika geopolitik paling kompleks dalam sistem internasional kontemporer. Secara umum, konflik ini sering dipahami dalam kerangka kepentingan strategis seperti keamanan regional, pengaruh politik, kontrol sumber daya energi, serta isu proliferasi nuklir. Namun, pendekatan tersebut belum cukup untuk menjelaskan intensitas konflik yang terus berulang dan sulit diselesaikan. Di balik dimensi material tersebut, terdapat dimensi yang lebih mendasar, yakni benturan pandangan dunia (worldview) yang membentuk cara masing-masing aktor memahami realitas, menentukan kawan dan lawan, serta memaknai konflik itu sendiri.

Pandangan dunia atau worldview merupakan sistem keyakinan fundamental yang mencakup aspek ontologis (hakikat realitas), epistemologis (cara memperoleh pengetahuan), dan aksiologis (nilai dan tujuan hidup). Dalam konteks hubungan internasional, worldview memengaruhi bagaimana suatu negara mendefinisikan kepentingannya, merumuskan kebijakan luar negeri, serta membangun narasi legitimasi terhadap tindakan militernya. Oleh karena itu, konflik Iran dengan Amerika dan Israel tidak hanya merupakan konflik kepentingan, tetapi juga konflik makna dan nilai.

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai analisis menunjukkan bahwa konflik ini semakin dipengaruhi oleh faktor ideologis dan religius. Bahkan, sejumlah pengamat menyebutnya sebagai bentuk kontemporer dari “benturan peradaban,” di mana identitas keagamaan dan narasi sejarah memainkan peran signifikan dalam memperkuat polarisasi antar aktor . Hal ini menunjukkan bahwa untuk memahami konflik ini secara utuh, diperlukan pendekatan multidimensional yang mengintegrasikan perspektif geopolitik dengan analisis worldview.

Esai ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam pandangan dunia yang mendasari konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Analisis akan difokuskan pada tiga aktor utama tersebut, dengan menelaah fondasi ideologis, narasi historis, serta implikasi strategis dari masing-masing worldview. Dengan demikian, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai akar konflik serta tantangan dalam upaya penyelesaiannya.

 

KONSEP WORLDVIEW DALAM STUDI KONFLIK INTERNASIONAL

Worldview dalam konteks hubungan internasional dapat dipahami sebagai kerangka kognitif dan normatif yang digunakan oleh aktor negara untuk menafsirkan dunia. Ia mencakup asumsi dasar tentang siapa “kita” dan siapa “mereka,” apa yang dianggap benar dan salah, serta tujuan akhir yang ingin dicapai dalam sistem internasional. Worldview tidak hanya bersifat abstrak, tetapi juga terinternalisasi dalam institusi politik, kebijakan negara, dan bahkan strategi militer.

Dalam studi konflik, worldview berfungsi sebagai “lensa interpretatif” yang menentukan bagaimana suatu peristiwa dipahami. Misalnya, tindakan militer yang sama dapat dipersepsikan sebagai “pertahanan diri” oleh satu pihak, tetapi dianggap sebagai “agresi” oleh pihak lain. Perbedaan interpretasi ini seringkali berakar pada perbedaan worldview, bukan sekadar perbedaan kepentingan material.

Selain itu, worldview juga berperan dalam membentuk legitimasi moral suatu tindakan. Negara seringkali menggunakan narasi ideologis atau religius untuk membenarkan kebijakan luar negerinya, termasuk penggunaan kekuatan militer. Dalam konteks konflik Iran-Amerika-Israel, narasi-narasi seperti “perlawanan terhadap penindasan,” “perang melawan terorisme,” atau “pertahanan eksistensial” mencerminkan worldview yang berbeda-beda.

Lebih jauh lagi, worldview memiliki dimensi emosional dan simbolik yang kuat. Ia tidak hanya memengaruhi elite politik, tetapi juga masyarakat luas. Hal ini membuat konflik yang berbasis worldview cenderung lebih sulit diselesaikan, karena melibatkan identitas kolektif dan keyakinan yang mendalam. Dengan demikian, analisis worldview menjadi kunci untuk memahami mengapa konflik tertentu bersifat persisten dan resisten terhadap diplomasi.

 

WORLDVIEW IRAN: TEOLOGI REVOLUSIONER DAN IDEOLOGI PERLAWANAN

Sejak Revolusi Islam 1979, Iran mengembangkan worldview yang unik, yang menggabungkan teologi Syiah dengan ideologi revolusioner. Konsep utama dalam worldview ini adalah Wilayat al-Faqih, yaitu kepemimpinan politik oleh ulama sebagai representasi otoritas ilahi. Dalam kerangka ini, negara tidak hanya berfungsi sebagai entitas politik, tetapi juga sebagai instrumen untuk mewujudkan nilai-nilai keagamaan.

Salah satu elemen penting dalam worldview Iran adalah narasi Karbala, yaitu peristiwa historis yang menggambarkan perjuangan Imam Husain melawan tirani. Narasi ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan sering digunakan untuk memaknai konflik modern. Dalam konteks ini, Iran melihat dirinya sebagai representasi “kebenaran” yang melawan “penindasan” yang diasosiasikan dengan Amerika dan Israel.

Worldview Iran juga membagi dunia ke dalam dua kategori utama: mustakbirin (penindas) dan mustadh’afin (yang tertindas). Amerika Serikat sering disebut sebagai “Setan Besar,” sementara Israel dipandang sebagai entitas ilegal yang menindas rakyat Palestina. Pembagian ini tidak hanya bersifat retoris, tetapi juga menjadi dasar kebijakan luar negeri Iran, termasuk dukungan terhadap kelompok-kelompok yang tergabung dalam “Poros Perlawanan.”

Selain itu, worldview Iran memiliki dimensi eskatologis, yaitu keyakinan akan kedatangan Imam Mahdi sebagai penyelamat. Keyakinan ini memberikan makna transendental terhadap konflik, di mana perjuangan melawan musuh dipandang sebagai bagian dari rencana ilahi. Akibatnya, konflik tidak hanya dilihat dalam kerangka duniawi, tetapi juga sebagai bagian dari misi spiritual.

Dalam praktiknya, worldview ini menghasilkan strategi yang menekankan ketahanan (resilience) daripada kemenangan cepat. Iran cenderung menggunakan perang asimetris, termasuk dukungan terhadap aktor non-negara, untuk menghadapi kekuatan militer yang lebih besar. Dengan demikian, tujuan utama bukanlah memenangkan perang secara konvensional, tetapi mempertahankan eksistensi dan legitimasi ideologis.

 

WORLDVIEW AMERIKA SERIKAT: LIBERALISME, NASIONALISME, DAN DIMENSI RELIGIUS

Amerika Serikat secara tradisional dikenal sebagai negara yang mengusung nilai-nilai liberal seperti demokrasi, kebebasan individu, dan hak asasi manusia. Namun, dalam konteks konflik dengan Iran, worldview Amerika menunjukkan kompleksitas yang lebih besar, dengan adanya pengaruh nasionalisme dan dimensi religius tertentu.

Dalam kerangka liberal, Amerika memandang dirinya sebagai penjaga tatanan internasional yang berbasis aturan. Oleh karena itu, Iran sering diposisikan sebagai ancaman terhadap stabilitas global, terutama terkait program nuklir dan dukungan terhadap kelompok yang dianggap teroris. Narasi ini digunakan untuk membenarkan kebijakan sanksi ekonomi dan intervensi militer.

Namun, di sisi lain, terdapat pengaruh kuat dari kelompok evangelis yang memiliki pandangan eskatologis tentang Timur Tengah. Kelompok ini melihat Israel sebagai bagian penting dari rencana ilahi, dan konflik di kawasan tersebut sebagai tanda-tanda akhir zaman. Pengaruh ini turut membentuk kebijakan luar negeri Amerika, terutama dalam hubungan dengan Israel.

Selain itu, retorika politik di Amerika sering menggunakan dikotomi moral seperti “baik versus jahat.” Iran sering digambarkan sebagai bagian dari “axis of evil,” yang mencerminkan worldview yang bersifat dualistik. Pendekatan ini memperkuat polarisasi dan mengurangi ruang untuk kompromi diplomatik.

Dalam konteks strategis, Amerika memiliki tujuan yang lebih luas, termasuk menjaga hegemoni global dan mencegah munculnya kekuatan regional yang dapat menantang dominasinya. Oleh karena itu, konflik dengan Iran tidak hanya dilihat sebagai isu regional, tetapi juga sebagai bagian dari strategi global.

 

WORLDVIEW ISRAEL: KEAMANAN EKSISTENSIAL DAN NARASI HISTORIS

Israel memiliki worldview yang sangat dipengaruhi oleh sejarah panjang bangsa Yahudi, termasuk pengalaman diaspora dan tragedi Holocaust. Pengalaman ini membentuk persepsi ancaman yang tinggi terhadap keberlangsungan negara, sehingga keamanan menjadi prioritas utama.

Dalam worldview Israel, Iran dipandang sebagai ancaman eksistensial, terutama karena retorika anti-Israel dan dukungan terhadap kelompok seperti Hizbullah dan Hamas. Oleh karena itu, kebijakan Israel cenderung bersifat preventif dan agresif, termasuk serangan terhadap fasilitas militer Iran.

Selain itu, terdapat dimensi religius dalam worldview Israel, terutama terkait konsep “tanah perjanjian.” Meskipun tidak semua kebijakan didasarkan pada interpretasi religius, narasi ini tetap memiliki pengaruh dalam legitimasi politik dan identitas nasional.

Israel juga mengadopsi pendekatan realisme dalam hubungan internasional, dengan menekankan kekuatan militer dan deterrence sebagai alat utama untuk menjaga keamanan. Dalam konteks ini, tindakan militer dipandang sebagai langkah rasional untuk mencegah ancaman yang lebih besar.

 

BENTURAN WORLDVIEW DAN DINAMIKA KONFLIK

Konflik antara Iran, Amerika, dan Israel dapat dipahami sebagai benturan antara worldview yang berbeda dan seringkali tidak kompatibel. Iran melihat konflik sebagai perjuangan melawan penindasan, sementara Amerika melihatnya sebagai upaya menjaga tatanan global, dan Israel memandangnya sebagai pertahanan eksistensial.

Perbedaan ini menciptakan apa yang disebut sebagai “zero-sum conflict,” di mana kemenangan satu pihak dianggap sebagai kekalahan total bagi pihak lain. Dalam situasi seperti ini, kompromi menjadi sulit karena masing-masing pihak memiliki justifikasi moral yang kuat.

Selain itu, penggunaan narasi religius memperkuat intensitas konflik. Ketika konflik dipandang sebagai bagian dari rencana ilahi, maka ruang untuk negosiasi menjadi semakin sempit. Hal ini menjelaskan mengapa konflik ini cenderung berulang dan sulit diselesaikan.

Analisis terbaru juga menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya didorong oleh kepentingan strategis, tetapi juga oleh ideologi yang mendalam . Dengan demikian, solusi yang hanya berfokus pada aspek politik atau ekonomi kemungkinan besar tidak akan efektif.

IMPLIKASI DAN PROSPEK PERDAMAIAN

Benturan worldview dalam konflik ini memiliki implikasi besar terhadap stabilitas global. Konflik yang berkepanjangan dapat memicu eskalasi yang lebih luas, termasuk keterlibatan aktor internasional lainnya.

Untuk mencapai perdamaian, diperlukan pendekatan yang tidak hanya mempertimbangkan kepentingan material, tetapi juga memahami dimensi ideologis dan kultural. Dialog antar peradaban dan upaya membangun saling pengertian menjadi penting dalam konteks ini.

Tantangan utama adalah bagaimana menjembatani perbedaan worldview yang sangat mendasar. Selama masing-masing pihak tetap berpegang pada narasi absolut, maka perdamaian akan sulit dicapai.

 

KESIMPULAN

Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel merupakan contoh nyata bagaimana worldview dapat memengaruhi dinamika hubungan internasional. Di balik konflik militer dan politik, terdapat benturan nilai, keyakinan, dan identitas yang mendalam.

Iran mengusung worldview teologis-revolusioner yang menekankan perlawanan terhadap penindasan. Amerika Serikat membawa kombinasi antara liberalisme, nasionalisme, dan dimensi religius. Sementara itu, Israel mengedepankan keamanan eksistensial yang dipengaruhi oleh sejarah dan identitas nasional.

Benturan worldview ini menciptakan konflik yang kompleks dan sulit diselesaikan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang worldview menjadi kunci untuk mencari solusi yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, perdamaian tidak hanya membutuhkan kesepakatan politik, tetapi juga transformasi cara pandang. Tanpa perubahan dalam worldview, konflik ini berpotensi terus berlanjut dalam berbagai bentuk di masa depan.

 

Sumber analisis:

The Jerusalem Post, BeritaSatu.com, The Daily Guardian, The Voice Of Vietnam, Pakistan Observer, jpost.com, Kompas.com, Hamilton Lugar School of Global and International Studies, Al Jazeera.

Senin, 15 September 2025

LIFELONG LEARNING – PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP : SUATU LATAR BELAKANG

LIFELONG LEARNING – PEMBELAJARAN SEUMUR HIDUP : SUATU LATAR BELAKANG



Usia tidak menghalangi seseorang untuk melakukan belajar (study) dan pembejaran (learning). Belajar (Study) memiliki fokus pada proses dalam konteks akademis, seperti mempelajari mata pelajaran tertentu atau mengambil program studi. Proses belajar yang lebih terstruktur, formal, dan biasanya terkait dengan akademis atau bidang disiplin ilmu tertentu. Proses belajar ini memiliki tujuan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman dalam bidang studi tertentu.

Sedangkan pembelajaran (learning) memiliki makna yang lebih luas merujuk pada proses memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman baru secara umum, tidak harus terbatas pada konteks formal. Pembelajaran memiliki fokus proses mendapatkan pengetahuan, keterampilan, atau pemahaman baru secara umum melalui berbagai pengalaman.  Pembelajaran memiliki aspek mengubah perilaku atau mengembangkan kemampuan baru, yang bisa bersifat positif dan berkelanjutan.

Dalam konteks pendidikan, belajar dan pembelajaran mempunyai peran penting dalam mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan merupakan proses sadar, terencana, dan berkelanjutan untuk mengembangkan potensi individu secara menyeluruh (spiritual, intelektual, emosional, dan fisik) melalui bimbingan, pengajaran, dan pelatihan agar menjadi manusia yang cakap, kritis, dan bertanggung jawab untuk menghadapi kehidupan dan memenuhi peran di masyarakat.

Belajar dan pembelajaran merupakan kegiatan utama dalam proses pendidikan. Belajar dan Pembelajaran untuk mengembangkan potensi diri dalam meningkatkan kualitas hidup. Pemahaman tentang konsep belajar dan pembelajaran sangat penting diketahui oleh para edukator untuk dapat membantu para peserta didik untuk mendapatkan pengetahuan dan mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Tingkat keberhasilan dari belajar dan pembelajaran dilihat dari keberhasilan dalam mencapai tujuan pembelajaran, Tercapainya tujuan pembelajaran memperlihatkan keberhasilan edukator dalam menjalani proses belajar dan pembelajaran secara efektif dan efisien yang dilihat dari interaksi antara komponen pendidikan.

Proses belajar dan pembelajaram, dalam pendidikan, mengharapkan adanya perubahan perilaku peserta didik yang signifikan serta lebih baik dan benar. Perubahan perilaku dari hasil belajar dan pembelajaran memiliki sifat continue, fungsional, positif, aktif dan terarah.

Perubahan dalam proses belajar dan pembelajaran, merupakan suatu keniscayaan bagi kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Aspek-aspek perubahan sebagai suatu keniscayaan bagi manusia meliputi: konsep perubahan (sebagai suatu keniscayaan dan bagian dari takdir Allah), orientasi perubahan (menuju kebaikan dan keselamatan yang diamanahkan Tuhan), faktor penyebab perubahan (internal dan eksternal seperti penemuan baru dan interaksi sosial), serta cara mewujudkan perubahan (berusaha, bersabar, dan berbekal tekad serta komitmen spiritual).

Perubahan, dalam konteks ajaran Islam, merupakan suatu keniscayaan yang harus dilakukan manususia dalam sepanjang hidupnya. Al-Qur'an mengajarkan bahwa perubahan adalah bagian dari takdir Allah, menjadi dasar bahwa manusialah yang harus memulai perubahan.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS Ar-Ra'd: 11).

        Dengan demikian, proses pembelajaran sepanjang hidup manusia (Lifelong learning) merupakan hal yang niscaya (tentu, pasti, atau tidak boleh tidak) dijalani oleh manusia. Tulisan artikel ini berupaya mengulas tentang konsep pembelajaran sepanjang hidup manusia (lifelong learning concepts) yang berkembang secara umum dan yang berkembang dalam khazanah Ke-Islaman.

 

Kencong, 13 September 2025

Kamis, 11 September 2025

KOMPOSISI

 


KOMPOSISI

@edukatortambeng (Y.S.H.)

“Setiap sesuatu memiliki tata susunan (komposisi)”

 

Umum

Komposisi  secara harfiah, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, memiliki pengertian n 1. susunan; 2. tata susun; 3. Mus. gubahan, baik instrumental maupun vokal; 4. teknik menyusun karangan agar diperoleh cerita yang indah dan selaras; 5 Sen integrasi warna, garis, dan bidang untuk mencapai kesatuan yang harmonis.

Komposisi, secara terminologi, berarti susunan, tata susun, atau pengaturan berbagai unsur menjadi satu kesatuan yang harmonis atau teratur. Makna ini berlaku umum dan juga khusus dalam berbagai bidang.

Makna umum dari komposisi adalah bagaimana suatu hal disusun atau ditata secara keseluruhan. komposisi selalu berkaitan dengan penyusunan atau penataan elemen-elemen yang berbeda menjadi satu kesatuan yang padu dan bertujuan. Setiap sesuatu memiliki komposisi di dalam diri sesuatu tersebut.

Makna khusus dari komposisi, sebagai tata susun sesuatu, berlaku dalam masing-masing bidang. Komposisi bahasa adalah susunan atau tata susun dari kata-kata, morfem, atau elemen-elemen linguistik lainnya untuk membentuk makna yang utuh atau konsep baru. Ini bisa berupa penggabungan dasar kata (morfologi) seperti pemajemukan untuk menciptakan kata baru, atau penyusunan kalimat dan teks (sintaksis dan naratologi) untuk menyampaikan gagasan secara efektif.

Komposisi dalam Seni Rupa adalah penempatan atau aransemen unsur-unsur visual (warna, garis, bentuk) dalam sebuah karya seni agar tercipta kesatuan yang harmonis dan menarik secara estetika. Komposisi dalam Musik merupakan karya musik itu sendiri (gubahan instrumental atau vokal) atau teknik dalam menyusun karangan musik agar indah dan selaras. Komposi dalam Bidang Pangan mengacu pada daftar bahan (ingredients) yang menyusun suatu produk makanan, yang biasanya ditulis berurutan dari jumlah terbanyak hingga tersedikit.  Komposisi bidang Matematika, dalam hal ini komposisi bilangan merupakan kegiatan atau cara menyusun bilangan-bilangan tertentu menjadi satu keseluruhan.

 

Buku Komposisi

“Komposisi: sebuah Pengantar Kepada Kemahiran Bahasa” yang ditulis oleh drs. Gorys Keraf sejak awal diterbitkannya pada tahun 1973 telah menjadi referensi / acuan dalam berbagai bahasan dan penelitian kebahasaan maupun bidang lain yang terkait pendefinisian maupun tata susunan sesuatu.

Buku Komposisi tersebut memberikan penjelasan bagaimana tehnik seorang penulis dalam melengkapi sebuah karyanya. Pembahasan utama dari buku Komposisi ini tentang penyusunan karya tulis ilmiah dengan mengulas berbagai aturan dasar berbahasa (tulis) Indonesia yang baik dan benar. Mulai dari pungtuasi, efektifitas kalimat, alinea, dsb.

Buku yang telah diterbitkan dalam puluhan tahun telah menjadi referensi utama dalam bidang kepenulisan dan kebahasaan. Dalam buku ini diulas berbagai aspek dalam penyusunan karya tulis ilmiah , serta terdapat pula aturan-aturan penyusunan bibliografi, penulisan catatan kaki, dan sebagainya.

Komposisi yang ditulis Keraf ini menjadi salah satu buku klasik di bidang penulisan. Materi pembahasannya cukup luas, mulai dari pungtuasi, kalimat efektif, penyusunan alinea, sampai masalah penyusunan laporan. Buku Komposisi ini merupakan salah satu pegangan terbaik bagi mereka yang sedang terlibat dalam penyusunan karya ilmiah, atau untuk mereka yang sekedar ingin menambah kemahiran berbahasa Indonesia.

 

Tentang Penulis: drs. Gorys Keraf

Gorys Keraf lahir di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Desa Lamalera, daerah Lembata, 17 November 1936. Laki-laki bernama asli Gregorius Keraf ini merupakan lulusan Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI), jurusan Sastra Indonesia dengan kejuruan Linguistik.

Pada tahun 1978, beliau meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Morfologi Dialek Lamalera”. Sejak tahun 1963, Gorys Keraf menjadi dosen tetap di Fakultas Sastra UI. Beliau meninggal di usia 61 tahun, 30 Agustus 1997.

Gorys Keraf menjadi sebagai ahli bahasa kenamaan dari Indonesia karena kepakarannya dalam bidangnya. Namanya sangat dikenal dalam kajian lingustik maupun dalam buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Keraf berkontribusi besar dalam perkembangan ilmu bahasa Indonesia. Banyak karya yang telah dia ditulis, di antaranya adalah:

1.      Tata Bahasa Indonesia (Nusa Indah, 1970)

2.      Diksi dan Gaya Bahasa (1970)

3.      Komposisi: Sebuah Pengantar Kemahiran Bahasa (Nusa Indah, 1973)

4.      Eksposisi dan Deskripsi (Nusa Indah, 1981)

5.      Argumentasi dan Narasi (1985)

6.      Linguistik Bandingan Historis (Gramedia, 1984)

7.      Linguistik Bandingan Tipologis (1990)

8.      Tanya Jawab Ejaan Bahasa Indonesia untuk Umum (1992)

Kencong, 11/09/2025 02.20

Jumat, 18 Juli 2025

BENTANG ALAM DAN PASANGGRAHAN BONDOWOSO 1848 MASEHI

BENTANG ALAM DAN PASANGGRAHAN BONDOWOSO 1848 MASEHI


Pasanggarahan Bondowoso atau Penginapan Pemerintah di Bondowoso dengan pemandangan Bentang Alam Pegunungan Yang (Pegunungan Hyang) dan Gunung Saing – Oost-Java (Jawa Timur).

Gambar Sketsa Pasanggrahan Bondowoso atau Penginapan Pemerintah di Bondowoso dengan pemandangan Bentang Alam Pegunungan Yang (Pegunungan Hyang) dan Gunung Saing – Oost-Java (Jawa Timur) dilukis oleh Adrianus Johannes Bik (1790-1872). Adrianus Johannes Bik ini juga menggambar Sketsa Pangeran Diponegoro saat ditahan di Batavia pada tahun 1830 M.

Keterangan dari sketsa: bagian tengah bawah dan di samping gunung yang dimaksud: ‘pasanggrahan Bondowoso 1848; Gunung Yang; Gunung Saing; kebun kopi. Ukuran sketsa tinggi 337 mm x lebar 562 mm. Sketsa ini menjadi koleksi di Rijksmuseum Leiden.

Kamis, 17 Juli 2025

HUBUNGAN INDIA DENGAN WILAYAH INDONESIA (PENGARUH HINDU DAN BUDDHA) ANTARA ABAD 4 SEBELUM MASEHI – ABAD 1 SEBELUM MASEHI

HUBUNGAN INDIA DENGAN WILAYAH INDONESIA (PENGARUH HINDU DAN BUDDHA) ANTARA ABAD 4 SEBELUM MASEHI – ABAD 1 SEBELUM MASEHI

Oleh

Y. Setiyo Hadi

@edukatortambeng – Boemi Poeger Persada

 

Pengaruh India, dalam hal ini agama Hindu dan Budha, terjadi antara abad 4 sampai 2 sebelum Masehi. Ramayana, yang ditulis Resi Walmiki (Valmiki), dikisahkan Sri Rama memerintahkan Hanuman mencari Sita (istri Sri Rama) yang diculik Rahwana. Hanuman diperintah Sri Rama untu mencari Sita di delapan penjuru mata angin, salah satunya bernama Yavadvipa, “Lewatilah Yavadvipa, tujuh kerajaan menjadi hiasan. Itulah tanah emas dan perak..” Para ahli sejarah sepakat Yavadvipa yang disebut menghasikan emas dan perak itu adalah adalah Pulau Jawa.

Ramayana yang ditulis Rsi Valmiki, yang terdiri dari 24.000 shloka dan tujuh canto (kaṇḍa), menceritakan kisah Sri Rama dari kota Ayodhya di Kerajaan Kosala, yang istrinya Sita diculik oleh Rahwana, raja Rakshasa dari Lanka. Perkiraan para Sejarawan tahap paling awal teks berkisar antara abad ke-8 hingga ke-4 Sebelum Masehi.

Koneksi India dengan Kepulauan Nusantara, terutama Pulau Jawa, dapat terdeteksi dalam kisah epos Ramayana dari India. Sugriwa, dalam kisah epos Ramayana, seorang jenderal dari Sri Rama mengirim anak buahnya ke Yawadvipa yang diidentifikasi sebagai Pulau Jawa untuk mencari Sita. Bangsa India telah terkoneksi dengan kepulauan Nusantara / Jawa berkisar antara abad 8 sampai abadd 4 SM, demikian bangsa dari Nusantara / Jawa kuna (dalam rumpun Bangsa Austronesia) melalu perdagangan bahari di Laut Asia Tenggara dan Samudera Hindia bersafaari di India.

Adanya koneksi timbal balik antara India dengan Nusantara pada era prasejarah tersebut memungkin persebaran ajaran Hindu-Buddha dari India dan aspek kebudayaannya, termasuk bahasa Sansekerta dan Aksara Brahmi, bermigrasi ke kepulauan Nusantara / Jawa. Hal ini memungkinkan terjadi meresapnya pengaruh Indi dalam budaya dan tradisi Nusantara yang merupakan perpaduan dari India, China, Asia Tenggara, dan budaya asli Nusantara.

Peta Geographike Gypehegesis, karya dari Claudius Ptolomeus, yang ditulis pada tahun 150 Masehi menjelaskan berbagai kapal dari Aleksandria rutin berlayar dari Teluk Persia menuju Bandar Baybaza di Cambay, India dan Majuri di Kochin, India Selatan. Claudius Ptolomeus juga menjelaskan dari pelabuhan-pelabuhan itu kapal melanjutkan pelayaran pantai timur India hingga ke kepulauan Aurea Chersonnesus. Di kepulauan itu kapal-kapal bakal singgah di Barousae, Sinda, Sabadiba, dan termasuk Iabadiou. Iabadiou adalah toponim yang sama dengan Yavadvipa atau Jawa.

Nusantara, khususnya Pulalu Jawa, merupakan daerah perdagangan yang strategis. Didukung kondisi alamnya, Memanfaatkan angin muson barat perahu-perahu beracdik dari Nusantara melintasi Samudera Hindia dan berlabuh di dermaga-dermaga di India hingga pantai timur Afrika.

Kontak perdagangan dan pelayaran India dengan Kepulauan Nusantara, yang diidentifikasi sebagai Sunda Land, pada era akhir prasejarah telah ditemukan di Situsan Sembiran dan Pacung Pantai Utara Pulau Bali. Terletak di tengah jalur maritim utama Gugusan Kepulauan Sunda (Sunda Land), antara Indonesia bagian timur dan barat, pelabuhan dan situs pemakaman Sembiran dan Pacung di pesisir utara Bali telah menghasilkan bukti penting untuk menilai kembali waktu dan dampak kontak pertukaran awal antara Kepulauan Asia Tenggara dengan India dan Asia Tenggara Daratan selama periode prasejarah akhir (200 SM–500 M).

Pertumbuhan jaringan tersebut  merupakan proses revolusioner yang melibatkan berbagai jenis interaksi budaya yang, pada akhir milenium pertama Masehi, mengarah pada pembentukan negara-negara berbasis India di Asia Tenggara, yang pusat-pusatnya berlokasi strategis di sepanjang jalur pertukaran awal.

 

REFERENSI

ARDIKA, I.W. 1991. Archaeological research in northeastern Bali, Indonesia. Disertasi tidak dipublikasikan, Australian National University.

ARDIKA, I.W. & P. BELLWOOD. 1991. Sembiran: the beginnings of Indian contact with Bali. Antiquity 65: 221–32.

ARDIKA, I.W., P. BELLWOOD, R.A. EGGLETON & D.J. ELLIS. 1993. A single source for South Asian export-quality Rouletted Ware. Man and Environment 18(1): 101–109.

ARDIKA, I.W., P. BELLWOOD, I.M. SUTABA & N.L.K.C. YULIATI. 1997. Sembiran and the first Indian contacts with Bali: an update. Antiquity 71: 193–95.

AZIZ, F. & SUDARTI. 1996. Bahan Baku Perunggu pada Awal Masehi di Bali: Tinjauan dari Sudut Analisa Kimia. Paper presented at the Pertemuan Ilmiah Arkeology VII meeting, 12–16 March, Cipanas.

Calo, dkk, 2015. Calo, Ambra; Bagyo Prasetyo, Peter Bellwood, James W. Lankton, Bernard Gratuze, Thomas Oliver Pryce, Andreas Reinecke, Verena Leusch, Heidrun Schenk, Rachel Wood, Rochtri A. Bawono, I Dewa Kompiang Gede, Ni L.K. Citha Yuliati, Jack Fenner, Christian Reepmeyer, Cristina Castillo and Alison K. Carter. 2015 “Sembiran and Pacung on the north coast of Bali: a strategic crossroads for early trans-Asiatic exchange”. Dalam Antiquity / Volume 89 / Issue 344 / April 2015, pp 378 – 396.

Goldman, R. P. (1984). The Rāmāyaṇa of Vālmīki: An Epic of Ancient India, Volume I: Balakāṇḍa. Princeton University Press.


Minggu, 13 Juli 2025

BANGKIT DAN BERDAULAT!!! – REFLEKSI AWAL (#1)


BANGKIT DAN BERDAULAT!!! – REFLEKSI AWAL (#1)

By. Y. Setiyo Hadi @edukatortambeng 



Bangkit dan Berdaulat!!! Dua kata motivasi, bagi diri penulis dalam menyikapi situasi dan kondisi diri dan lingkungan untuk terus bergerak dan bergerak terus sampai diantar ke liang lahat. Berhenti akan dilindas, menghindar akan terlindas pula, tentu saja harus bangkit dan berdaulat.

Menjadikan peristiwa-peristiwa masa lalu yang disebut sejarah yang selama ini dianggap sebagai kata benda (noun) harus dijadikan kata kerja (verb). Mari kita kaji dan renungkan makna dari hadirnya Proklamasi 17 Agustus 1945 yang dijadikan momentum Kemerdekaan Indonesia yang diperingati sebagai Hari Kemerdekaan Indonesia, sebaga Hari Jadi Indonesia.

“Kami Bangsa Indonesia Dengan Ini Menyatakan Kemerdekaan Indonesia”

Tidak serta merdeka sepenuhnya ........ Pekik “Merdeka” menggema seantero Nusantara dengan harapan kedaulatan sepenuhnya hadir di negara yang disebut Indonesia ..... para pemimpin bangsa berupaya mengkonsolidasikan untuk mengusahakan “Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja”.

Akar rumput ...... mayoritas rakyat Indonesia diberbagai wilayah Nusantara .... memiliki harapan besar terhadap kemerdekaan Indonesia .... dengan harapan kesejahteran dan keadilan yang berkedaulatan ditangan bangsa Indonesia.

Di sisi lain, Belanda berusaha kembali menjajah kembali dengan menelorkan slogan “Bersiap Tijd” .... Periode Bersiap ......... dengan harapan Belanda kembali lagi mengusai Indonesia ......  sehingga pihakpihak yang diuntungkan pada masa Hindia Belanda .... turut serta dalam Periode Bersiap menyongsong kembalinya Belanda menguasai Indonesia .....

Gejolak terjadi di berbagai wilayah Nusantara di saat para pemimpin bangsa mengusahakan “Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja” .........

Periode Bersiap [Bersiap Tijd] dalam sudut pandang Belanda, Belanda berusaha membonceng Sekutu, dalam hal ini Inggris, untuk kembali menguasai Indonesia.

Setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Sukarno pada 17 Agustus 1945 dan mencapai puncaknya selama kekosongan kekuasaan antara penarikan pasukan pendudukan Jepang hadir militer Inggris , sebelum penyerahan resmi kepada kehadiran militer Belanda pada Maret 1946.

Inggris terkejut setelah peristiwa 10 November 1945 di Surabaya, Palagan Ambarawa 20 Oktober hingga 15 Desember 1945 di Ambarawa, Jawa Tengah, Palagan Bojongkokosan terjadi pada tanggal 9–12 Desember 1945 di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat ........ Milter Inggris sebagai Pemenang dalam Perang Dunia II dibikin “keok” oleh gabungan rakyat dan Tentara Rakyat Indonesia ....... Inggris sadar bahwa Indonesia bukan medan perang mereka dan dimanfaatkan oleh Belanda.

Demikian ringkas cerita reflektif kondisi Indonesia sesaat setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ......... Kemerdekaan yang dinyatakan masih harus dipertahankan dan diperjuangkan .....

Motivasi Bangkit dan Berdaulat menjadi spirit perjuangan mempertahankan dan mengisi kemerdekaan ......  Dua kata motivasi dalam menyikapi situasi dan kondisi diri dan lingkungan untuk terus bergerak dan bergerak terus sampai diantar ke liang lahat. Berhenti akan dilindas, menghindar akan terlindas pula, tentu saja harus bangkit dan berdaulat.

 

By. Setiyo Hadi @edukatortambeng

Kencong, 13 Juli 2025

Sabtu, 27 Januari 2024

STORY LINE BOEMI POEGER (LANDSCHAP EN REGENTSCHAP POEGER) : Wilayah Sejarah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur – Indonesia

 


Story Line BOEMI POEGER (LANDSCHAP EN REGENTSCHAP POEGER) : Wilayah Sejarah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur – Indonesia berdasarkan data dan fakta keberadaan dari Landschap en Regentschap Poeger hadir pada masa lalu (presence of the past) sebagai wilayah sejarah dari Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur – Indonesia (Lihat: Gambar). Fungsi dari Story Line BOEMI POEGER (LANDSCHAP EN REGENTSCHAP POEGER) : Wilayah Sejarah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur – Indonesia merupakan poin-poin dari perjalanan masa lalu dari keberadaan dan dinamika masyarakat yang menghuni di Pulau Jawa Bagian Timur (Java’s Oosthoek), terutama masyarakat yang berada di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur.

Boemi Poeger merupakan terjemahan dari Landschap Poegar yang tertera dalam Peta Valentijn tahun 1726 sebagai bagian dari buku Groot Java of te Java Major. Fakta ini didukung oleh peta yang dikeluarkan oleh Thomas Stamford Raffles tahun 1817 M yang berjudul A map of Java: Chiefly from surveys made during the British administration constructed in illustration of an account of Java yang dianggap sebagai first scientific map of Java (Peta Ilmiah Pertama dari Pulau Jawa), serta keterangan-keterangan dalam History of Java yang ditulis Raffles, menunjukkan Regentschap Poegar sebagai bagian wilayah dari Pulau Jawa.

Didukung arsip-arsip colonial V.O.C.,Kuasa Kerajaan Belanda (1800 – 1808 M), Masa Daendels 1808 – 1811 M, Masa Pendudukan Inggris di Jawa 1811 – 1817 M, serta Nederlandsch Indie (Hindia  Belanda) periode 1818 / 1819 M sampai 1900 M menunjukkan fakta bahwa Landschap dan Regentschap Poegar berada sebagai bagian dari wilayah yang disebut Java’s Oosthoek (Pojok Timur Pulau Jawa) yang kemudian pada tahun 1819 M menjadi sebagai Afdeeling Bondowoso. Sedangkan pada masa berikut pada tahun 1883 Afdeeling Bondowoso dimekarkan menjadi dua, yaitu: Afdeeling Bondowoso dan Afdeeling Djember.

Story line ini sebagai enterpoint (titik masuk) untuk menelusuri keberadaan masa lalunya sebelum 1726 M dan menelisik jauh perkembangan setelah tahun 1817 M. Periode 1726 – 1817 M merupakan masa konsolidasi kewilayahan akibat kolonialisasi dan imperialism bangsa asing (eksogen) yang tentu saja terdapat dinamika dari factor dalam (endogen) dalam wilayah ini yang memunculkan dinamika historis menjadi fondasi dan background dari perkembangan selanjutnya, Story line bermanfaat menjadi kerangka sistematis dalam penelusuran, analisis dan interpretasi, serta pengungkapan berbagai peristiwa masa lalu, khususnya di wilayah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember, serta perkembangan dinamika pada umumnya baik ditingkat Propinsi Jawa Timur maupun di nasional.

Data dan Fakta yang dipergunakan dalam menyusun Story Line BOEMI POEGER (LANDSCHAP EN REGENTSCHAP POEGER) : Wilayah Sejarah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur – Indonesia merupakan hasil penelusuran sejak tahun 2007, dan lebih giat dan ekstensif pada tahun 2011 / 2012 sampai saat ditulisnya story line ini, dan hasil penelusuran tersebut menjadi koleksi dari Perpustakaan dan Museum Boemi Poeger yang dikelola oleh Yayasan Boemi Poeger Persada.

Semoga Bermanfaat – Terlimpahi Berkah dan Rezeki.

Y,S,H, 27012024

 


BENTURAN PERADABAN : ANALISIS PANDANGAN DUNIA (WORLDVIEW) DALAM KONFLIK DAN PERANG ANTARA IRAN DENGAN AMERIKA DAN ISRAEL

By. Y.Setiyo Hadi (Mas Yopi) @edukatortambeng Email: setiyohadi2012@gmail.com   ABSTRAK Analisis mendalam terhadap dinamika geopolit...