By. Y.Setiyo Hadi (Mas Yopi) @edukatortambeng
Email: setiyohadi2012@gmail.com
ABSTRAK
Analisis mendalam terhadap dinamika geopolitik di Timur Tengah menunjukkan
bahwa konflik antara Republik Islam Iran, Amerika Serikat, dan Israel bukan
sekadar persaingan material atas sumber daya energi, pengaruh politik regional,
atau proliferasi nuklir, melainkan sebuah benturan fundamental antar pandangan
dunia (worldview) yang berfungsi sebagai lensa interpretatif dalam
menentukan kawan, lawan, dan makna dari realitas internasional. Iran mengadopsi
worldview teologi-revolusioner yang berakar pada konsep Wilayat
al-Faqih dan narasi sejarah Karbala, di mana perjuangan melawan Amerika
Serikat yang dijuluki sebagai "Setan Besar" dan Israel sebagai
entitas ilegal dipandang sebagai misi suci untuk membela kaum tertindas (mustadh’afin)
melawan para penindas (mustakbirin), yang memberikan dimensi eskatologis
dan transendental pada setiap kebijakan luar negerinya. Di sisi lain, Amerika
Serikat membawa worldview yang merupakan perpaduan kompleks antara
liberalisme tatanan global berbasis aturan, nasionalisme, dan pengaruh kuat
kelompok evangelis domestik yang melihat eksistensi Israel sebagai bagian dari
rencana ilahi akhir zaman, sehingga menempatkan Iran dalam dikotomi moral
"baik versus jahat" yang memperkaku ruang diplomasi. Sementara itu,
Israel dipandu oleh worldview keamanan eksistensial yang traumatis
akibat pengalaman kolektif Holocaust dan diaspora panjang, yang melahirkan
doktrin pertahanan preventif agresif di mana setiap ancaman dari Iran dan
proksinya dianggap sebagai ancaman genosida yang tidak dapat dinegosiasikan.
Benturan ketiga worldview yang absolut dan bersifat zero-sum ini
menciptakan kebuntuan sistemik, karena setiap tindakan militer atau sanksi
ekonomi tidak lagi dimaknai sebagai instrumen politik rasional, melainkan
sebagai manifestasi dari kebenaran moral masing-masing pihak. Akibatnya,
konflik ini menjadi sangat resisten terhadap solusi diplomatik konvensional
karena melibatkan identitas kolektif dan keyakinan mendalam yang tidak mengenal
kompromi. Studi ini menyimpulkan bahwa tanpa adanya upaya serius untuk melakukan
transformasi paradigma dan dialog antar-peradaban yang mampu menjembatani
perbedaan makna ontologis ini, stabilitas global akan terus terancam oleh
eskalasi yang dipicu oleh kesalahpahaman persepsi, di mana perdamaian sejati
hanya mungkin dicapai jika para aktor mampu melihat melampaui narasi absolut
yang selama ini mengunci mereka dalam siklus kekerasan yang tak berujung.
Kata Kunci: Worldview, Geopolitik, Iran, Amerika Serikat, Israel,
Teologi Revolusioner, Keamanan Eksistensial, Benturan Peradaban.
PENDAHULUAN
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel merupakan salah satu
dinamika geopolitik paling kompleks dalam sistem internasional kontemporer.
Secara umum, konflik ini sering dipahami dalam kerangka kepentingan strategis
seperti keamanan regional, pengaruh politik, kontrol sumber daya energi, serta
isu proliferasi nuklir. Namun, pendekatan tersebut belum cukup untuk
menjelaskan intensitas konflik yang terus berulang dan sulit diselesaikan. Di
balik dimensi material tersebut, terdapat dimensi yang lebih mendasar, yakni
benturan pandangan dunia (worldview) yang membentuk cara masing-masing aktor
memahami realitas, menentukan kawan dan lawan, serta memaknai konflik itu
sendiri.
Pandangan dunia atau worldview merupakan sistem keyakinan fundamental yang
mencakup aspek ontologis (hakikat realitas), epistemologis (cara memperoleh
pengetahuan), dan aksiologis (nilai dan tujuan hidup). Dalam konteks hubungan
internasional, worldview memengaruhi bagaimana suatu negara mendefinisikan
kepentingannya, merumuskan kebijakan luar negeri, serta membangun narasi
legitimasi terhadap tindakan militernya. Oleh karena itu, konflik Iran dengan
Amerika dan Israel tidak hanya merupakan konflik kepentingan, tetapi juga
konflik makna dan nilai.
Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai analisis menunjukkan bahwa konflik
ini semakin dipengaruhi oleh faktor ideologis dan religius. Bahkan, sejumlah
pengamat menyebutnya sebagai bentuk kontemporer dari “benturan peradaban,” di
mana identitas keagamaan dan narasi sejarah memainkan peran signifikan dalam
memperkuat polarisasi antar aktor . Hal ini menunjukkan bahwa untuk memahami
konflik ini secara utuh, diperlukan pendekatan multidimensional yang
mengintegrasikan perspektif geopolitik dengan analisis worldview.
Esai ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam pandangan dunia yang
mendasari konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Analisis akan
difokuskan pada tiga aktor utama tersebut, dengan menelaah fondasi ideologis,
narasi historis, serta implikasi strategis dari masing-masing worldview. Dengan
demikian, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai
akar konflik serta tantangan dalam upaya penyelesaiannya.
KONSEP WORLDVIEW DALAM
STUDI KONFLIK INTERNASIONAL
Worldview dalam konteks hubungan internasional dapat dipahami sebagai
kerangka kognitif dan normatif yang digunakan oleh aktor negara untuk
menafsirkan dunia. Ia mencakup asumsi dasar tentang siapa “kita” dan siapa
“mereka,” apa yang dianggap benar dan salah, serta tujuan akhir yang ingin
dicapai dalam sistem internasional. Worldview tidak hanya bersifat abstrak,
tetapi juga terinternalisasi dalam institusi politik, kebijakan negara, dan
bahkan strategi militer.
Dalam studi konflik, worldview berfungsi sebagai “lensa interpretatif” yang
menentukan bagaimana suatu peristiwa dipahami. Misalnya, tindakan militer yang
sama dapat dipersepsikan sebagai “pertahanan diri” oleh satu pihak, tetapi
dianggap sebagai “agresi” oleh pihak lain. Perbedaan interpretasi ini
seringkali berakar pada perbedaan worldview, bukan sekadar perbedaan
kepentingan material.
Selain itu, worldview juga berperan dalam membentuk legitimasi moral suatu
tindakan. Negara seringkali menggunakan narasi ideologis atau religius untuk
membenarkan kebijakan luar negerinya, termasuk penggunaan kekuatan militer.
Dalam konteks konflik Iran-Amerika-Israel, narasi-narasi seperti “perlawanan
terhadap penindasan,” “perang melawan terorisme,” atau “pertahanan
eksistensial” mencerminkan worldview yang berbeda-beda.
Lebih jauh lagi, worldview memiliki dimensi emosional dan simbolik yang
kuat. Ia tidak hanya memengaruhi elite politik, tetapi juga masyarakat luas.
Hal ini membuat konflik yang berbasis worldview cenderung lebih sulit
diselesaikan, karena melibatkan identitas kolektif dan keyakinan yang mendalam.
Dengan demikian, analisis worldview menjadi kunci untuk memahami mengapa
konflik tertentu bersifat persisten dan resisten terhadap diplomasi.
WORLDVIEW IRAN: TEOLOGI
REVOLUSIONER DAN IDEOLOGI PERLAWANAN
Sejak Revolusi Islam 1979, Iran mengembangkan worldview yang unik, yang
menggabungkan teologi Syiah dengan ideologi revolusioner. Konsep utama dalam
worldview ini adalah Wilayat al-Faqih, yaitu kepemimpinan politik oleh
ulama sebagai representasi otoritas ilahi. Dalam kerangka ini, negara tidak
hanya berfungsi sebagai entitas politik, tetapi juga sebagai instrumen untuk
mewujudkan nilai-nilai keagamaan.
Salah satu elemen penting dalam worldview Iran adalah narasi Karbala, yaitu
peristiwa historis yang menggambarkan perjuangan Imam Husain melawan tirani.
Narasi ini menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan sering
digunakan untuk memaknai konflik modern. Dalam konteks ini, Iran melihat
dirinya sebagai representasi “kebenaran” yang melawan “penindasan” yang
diasosiasikan dengan Amerika dan Israel.
Worldview Iran juga membagi dunia ke dalam dua kategori utama: mustakbirin
(penindas) dan mustadh’afin (yang tertindas). Amerika Serikat sering
disebut sebagai “Setan Besar,” sementara Israel dipandang sebagai entitas
ilegal yang menindas rakyat Palestina. Pembagian ini tidak hanya bersifat
retoris, tetapi juga menjadi dasar kebijakan luar negeri Iran, termasuk
dukungan terhadap kelompok-kelompok yang tergabung dalam “Poros Perlawanan.”
Selain itu, worldview Iran memiliki dimensi eskatologis, yaitu keyakinan
akan kedatangan Imam Mahdi sebagai penyelamat. Keyakinan ini memberikan makna
transendental terhadap konflik, di mana perjuangan melawan musuh dipandang
sebagai bagian dari rencana ilahi. Akibatnya, konflik tidak hanya dilihat dalam
kerangka duniawi, tetapi juga sebagai bagian dari misi spiritual.
Dalam praktiknya, worldview ini menghasilkan strategi yang menekankan
ketahanan (resilience) daripada kemenangan cepat. Iran cenderung menggunakan
perang asimetris, termasuk dukungan terhadap aktor non-negara, untuk menghadapi
kekuatan militer yang lebih besar. Dengan demikian, tujuan utama bukanlah
memenangkan perang secara konvensional, tetapi mempertahankan eksistensi dan
legitimasi ideologis.
WORLDVIEW AMERIKA
SERIKAT: LIBERALISME, NASIONALISME, DAN DIMENSI RELIGIUS
Amerika Serikat secara tradisional dikenal sebagai negara yang mengusung
nilai-nilai liberal seperti demokrasi, kebebasan individu, dan hak asasi
manusia. Namun, dalam konteks konflik dengan Iran, worldview Amerika
menunjukkan kompleksitas yang lebih besar, dengan adanya pengaruh nasionalisme
dan dimensi religius tertentu.
Dalam kerangka liberal, Amerika memandang dirinya sebagai penjaga tatanan
internasional yang berbasis aturan. Oleh karena itu, Iran sering diposisikan
sebagai ancaman terhadap stabilitas global, terutama terkait program nuklir dan
dukungan terhadap kelompok yang dianggap teroris. Narasi ini digunakan untuk
membenarkan kebijakan sanksi ekonomi dan intervensi militer.
Namun, di sisi lain, terdapat pengaruh kuat dari kelompok evangelis yang
memiliki pandangan eskatologis tentang Timur Tengah. Kelompok ini melihat
Israel sebagai bagian penting dari rencana ilahi, dan konflik di kawasan
tersebut sebagai tanda-tanda akhir zaman. Pengaruh ini turut membentuk
kebijakan luar negeri Amerika, terutama dalam hubungan dengan Israel.
Selain itu, retorika politik di Amerika sering menggunakan dikotomi moral
seperti “baik versus jahat.” Iran sering digambarkan sebagai bagian dari “axis
of evil,” yang mencerminkan worldview yang bersifat dualistik. Pendekatan ini
memperkuat polarisasi dan mengurangi ruang untuk kompromi diplomatik.
Dalam konteks strategis, Amerika memiliki tujuan yang lebih luas, termasuk
menjaga hegemoni global dan mencegah munculnya kekuatan regional yang dapat
menantang dominasinya. Oleh karena itu, konflik dengan Iran tidak hanya dilihat
sebagai isu regional, tetapi juga sebagai bagian dari strategi global.
WORLDVIEW ISRAEL:
KEAMANAN EKSISTENSIAL DAN NARASI HISTORIS
Israel memiliki worldview yang sangat dipengaruhi oleh sejarah panjang
bangsa Yahudi, termasuk pengalaman diaspora dan tragedi Holocaust. Pengalaman
ini membentuk persepsi ancaman yang tinggi terhadap keberlangsungan negara,
sehingga keamanan menjadi prioritas utama.
Dalam worldview Israel, Iran dipandang sebagai ancaman eksistensial,
terutama karena retorika anti-Israel dan dukungan terhadap kelompok seperti
Hizbullah dan Hamas. Oleh karena itu, kebijakan Israel cenderung bersifat
preventif dan agresif, termasuk serangan terhadap fasilitas militer Iran.
Selain itu, terdapat dimensi religius dalam worldview Israel, terutama
terkait konsep “tanah perjanjian.” Meskipun tidak semua kebijakan didasarkan
pada interpretasi religius, narasi ini tetap memiliki pengaruh dalam legitimasi
politik dan identitas nasional.
Israel juga mengadopsi pendekatan realisme dalam hubungan internasional,
dengan menekankan kekuatan militer dan deterrence sebagai alat utama untuk
menjaga keamanan. Dalam konteks ini, tindakan militer dipandang sebagai langkah
rasional untuk mencegah ancaman yang lebih besar.
BENTURAN WORLDVIEW DAN
DINAMIKA KONFLIK
Konflik antara Iran, Amerika, dan Israel dapat dipahami sebagai benturan
antara worldview yang berbeda dan seringkali tidak kompatibel. Iran melihat
konflik sebagai perjuangan melawan penindasan, sementara Amerika melihatnya
sebagai upaya menjaga tatanan global, dan Israel memandangnya sebagai
pertahanan eksistensial.
Perbedaan ini menciptakan apa yang disebut sebagai “zero-sum conflict,” di
mana kemenangan satu pihak dianggap sebagai kekalahan total bagi pihak lain.
Dalam situasi seperti ini, kompromi menjadi sulit karena masing-masing pihak
memiliki justifikasi moral yang kuat.
Selain itu, penggunaan narasi religius memperkuat intensitas konflik.
Ketika konflik dipandang sebagai bagian dari rencana ilahi, maka ruang untuk
negosiasi menjadi semakin sempit. Hal ini menjelaskan mengapa konflik ini
cenderung berulang dan sulit diselesaikan.
Analisis terbaru juga menunjukkan bahwa konflik ini tidak hanya didorong
oleh kepentingan strategis, tetapi juga oleh ideologi yang mendalam . Dengan
demikian, solusi yang hanya berfokus pada aspek politik atau ekonomi
kemungkinan besar tidak akan efektif.
IMPLIKASI DAN PROSPEK
PERDAMAIAN
Benturan worldview dalam konflik ini memiliki implikasi besar terhadap stabilitas
global. Konflik yang berkepanjangan dapat memicu eskalasi yang lebih luas,
termasuk keterlibatan aktor internasional lainnya.
Untuk mencapai perdamaian, diperlukan pendekatan yang tidak hanya
mempertimbangkan kepentingan material, tetapi juga memahami dimensi ideologis
dan kultural. Dialog antar peradaban dan upaya membangun saling pengertian
menjadi penting dalam konteks ini.
Tantangan utama adalah bagaimana menjembatani perbedaan worldview yang
sangat mendasar. Selama masing-masing pihak tetap berpegang pada narasi
absolut, maka perdamaian akan sulit dicapai.
KESIMPULAN
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel merupakan contoh nyata
bagaimana worldview dapat memengaruhi dinamika hubungan internasional. Di balik
konflik militer dan politik, terdapat benturan nilai, keyakinan, dan identitas
yang mendalam.
Iran mengusung worldview teologis-revolusioner yang menekankan perlawanan
terhadap penindasan. Amerika Serikat membawa kombinasi antara liberalisme,
nasionalisme, dan dimensi religius. Sementara itu, Israel mengedepankan
keamanan eksistensial yang dipengaruhi oleh sejarah dan identitas nasional.
Benturan worldview ini menciptakan konflik yang kompleks dan sulit
diselesaikan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang worldview
menjadi kunci untuk mencari solusi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, perdamaian tidak hanya membutuhkan kesepakatan politik,
tetapi juga transformasi cara pandang. Tanpa perubahan dalam worldview, konflik
ini berpotensi terus berlanjut dalam berbagai bentuk di masa depan.
Sumber analisis:
The Jerusalem Post, BeritaSatu.com, The Daily Guardian, The Voice
Of Vietnam, Pakistan Observer, jpost.com, Kompas.com, Hamilton Lugar School of
Global and International Studies, Al Jazeera.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar