Minggu, 20 Januari 2013

DINAMIKA PEMERINTAHAN DI KABUPATEN JEMBER : Mengurai Kerancuan Definisi Kewilayahan (district, afdeeling dan regenschap) dalam Buku I (Satu) Yang Diterbitkan Sekretaris DPRD Kabupaten Jember (Tulisan Pertama)


Peta Jember tahun 1914
(Peta yang sama dengan yang ada dalam buku DPRD Kabupaten Jember Buku 1 hal 70 dengan sumber asal yang berbeda)


Oleh
Y. Setiyo Hadi
(Ketua Tim Djember History Information Center / Ketua Taman Baca Budaya (TBB) SALAM Jember)

Pembuka Jalan
          Era Reformasi tahun 1998 yang dilanjutkan dengan Otonomi Daerah membuka jalan berbagai diskusi dan kajian tentang sejarah daerah. Berbagai daerah berupaya mengkaji sejarah perkembangan daerahnya. Ini berarti berupaya merumuskan jati dirinya sebagai daerah yang otonom dengan berbagai potensi yang dimiliki setiap daerah.
          Penggalian potensi sejarah daerah sebetulnya berkaitan erat dengan identitas nasional. Upaya menemukan kembali sejarah di masa Reformasi tidak jauh berbeda dengan yang terjadi pada awal bangsa Indonesia setelah Perang Kemerdekaan (yang terjadi antara tahun 1945 - 1950).
          Soedjatmoko pernah mengingatkan tentang keterkaitan masa lalu, kini dan akan datang(fn.1). (fn.1: Soedjatmoko, Etika Pembebasan. Pilihan Tentang Agama, Kebudayaan, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan, Jakarta: LP3ES, 1984, hal. 20). Keadaan yang dihadapi di dalam kekinian, dipandang sebagai sesuatu yang ditentukan oleh kelampaun. Oleh sebab sistem manusia bebas yang berada pada sistem yang terbuka, maka kelampauan bertanggung jawab langsung dalam menentukan hari depan.
          Secara lugas, Soedjatmoko mengatakan bahwa sadar akan kelampauan, kita akan bebas dalam kekinian dan bertanggung jawab untuk turut menentukan keakan. Sehingga mendefinisikan apa yang terjadi di masa lalu sangat penting dalam kekinian agar kita mengerti apa yang terjadi pada kekinian, serta turut menentukan arah kebijakan di masa datang.
          Sejarawan terkemuka Indonesia, Sartono Kartodirdjo, mengingatkan pula bahwa perkembangan sejarahlah yang mampu menunjukkan bagaimana sistem kemasyarakatan dengan struktur ekonomi, sosial dan politiknya, tumbuh, berubah-ubah, dan mencapai tingkat perkembangan seperti yang kita kenal sekarang (fn. 2).(fn. 2: Sartono Kartodirdjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru: 1500 - 1900 Dari Emporium Sampai Imperium, Jilid 1, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1992, hal. xiii). Maka, Sartono menganjurkan sekaligus memberi contoh agar perkembangan historis itu dipaparkan sebagai proses yang kompleks, sehingga tampil jelas interaksi antara pelbagai unsurnya serta saling pengaruh dan saling ketergantungan, antara pelbagai aspek kehidupan masyarakat itu.
          Sudut pandang sangat berpengaruh terhadap pemaparan deskripsi tentang penulisan tentang masa lalu.
          Keterangan ini di atas membuka jalan bagi siapapun untuk menelusuri masa lalunya untuk kepentingan masa depan. Setiap orang, yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, mempunyai hak untuk mengungkapkan masa lalu yang dia ketahui.

Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember
          Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Jember yang diperingati setiap tahunnya pada tanggal 1 Januari menjadi tabir tersendiri yang setiap tahun menjadi perdebatan. Secara yuridis dari peringatan hari jadi ini memunculkan berbagai misteri.
Orang sering membandingkan umur hari jadi Kabupaten Jember dengan umur beberapa Kabupaten di sekitarnya, seperti Bondowoso, Lumajang dan Banyuwangi. Kabupaten Jember terlihat lebih muda usianya dibanding kabupaten-kabupaten tersebut di sekitar Jember.
          Tanggal 1Januari dijadikan sebagai Hari Jadi Pemerintah Kabupaten Jember berdasarkan Staatsblad Van Nederlandsch Indie No. 322 tahun 1928 tentang Pembentukan Pemerintahan, Desentralisasi, Kabupaten-Kabupaten Jawa Timur, Petunjuk Regentschap/Kabupaten Jember sebagai gemeenschap / masyarakat yang berdiri sendiri (fn.3 / terlampir). (fn.3.: Staatsblad Van Nederlandsch Indie No. 322. 1928 Bestuurshervorming, Decentralisatie, Regentschapen, Oost Java. Aanwijzing van het regentschap Djember als zelfstandige gemeenschap). Pada artikel (pasal) 9 staatsblad tersebut dinyatakan bahwa peraturan tersebut diberlakukan pelaksanaannya pada tanggal 1 Januari 1929. Sehingga tanggal 1 Januari 1929 dianggap sebagai awal Regentschap Djember dimulai.
          Keterangan dari Buku 1 (Satu) yang diterbitkan Sekretaris DPRD Kabupaten Jember halaman 62 dijelaskan : "Setelah pada tahun 1928 status wilayah Jember oleh Pemerintah Hindia Belanda ditingkatkan dari Afdeeling Djember menjadi Regentschap Djember (Kabupaten Jember)". Bahwa, kedudukan afdeeling dianggap lebih rendah dibandingkan Regentschap.
          Di sinilah letak tabir awal, yaitu kerancuan dalam mendefinisikan afdeeling dan Regentschap. Berdasarkan kajian literatur kolonial yang dilakukan penulis tidak melihat afdeeling dan regentschap sebagai suatu tingkatan wilayah dimana afdeeling lebih rendah dari Regentschap. (bersambung: lihat hasil selanjutnya)

Tulisan selanjutnya :
Tulisan Kedua yang akan mengulas tentang Kajian Konteks dan Isi Staatsblad Nomor 322 Tahun 1928 yang meliputi pembahasan
          - Konteks kemunculannya
          - Isi
          - Relasi Antara Konteks dan Isi dalam menemukan definisi       tentang kewilayahan pemerintahan dalam sejarah Kabupaten      Jember


Proyek "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten" dijadikan sebagai pintu masuk (entry point) untuk membangun Sistem yang menjalankan DJEMBER History Information Center dengan membangun History Information System (HIS) .....



Sabtu, 19 Januari 2013

MENYIBAK TABIR MASA LALU KABUPATEN JEMBER


(BAHAN PEMBANDING DARI BUKU YANG DITERBITKAN SEKRETARIS DPRD KABUPATENJEMBER)

Awal Musabab
          Buku Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember: Bahan Pembanding Dari Buku Yang Diterbitkan Sekretaris DPRD Kabupaten Jember, ditulis untuk perbandingan dengan buku yang berjudul DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DALAM PERKEMBANGAN KABUPATEN JEMBER BUKU 1 (SATU) DOKUMEN SAMPAI DENGAN 1971. Buku yang diterbitkan Sekretariat DPRD Kabupaten Jember terdiri dua buku yang berupaya menggambarkan perjalanan DPRD Kabupaten Jember dalam konteks perkembangan Pemerintahan Kabupaten Jember secara umum.
          Buku I (Satu) yang diterbitkan oleh Sekretariat DPRD Kabupaten Jember tersebut berisikan tentang latar belakang sejarah (masa lalu) dari perkembangan Pemerintahan Kabupaten Jember sampai masa Awal Kemerdekaan (Masa Perang Kemerdekaan) serta kemunculan DPRD Kabupaten Jember dalam konteks perkembangan Kabupaten Jember sampai tahun 1971.
          Seperti yang diakui oleh Drs. Subadri Habib, M.Si. sebagai Ketua Tim Penyusun dalam pengantar buku tersebut, "Walaupun buku ini berisi sebuah perjalanan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam Perkembangan Kabupaten Jember, tetapi ini ditulis kurang menggunakan alur yang sistematis dengan metodologi penulisan yang ilmiah, sehingga buku ini belum sepenuhnya sempurna, karena itu menjadi kewajiban semua pihak untuk ikut menyempurnakannya, dengan memberikan kritik koreksi yang konstruktif .... ".
          Drs. Bambang Hariono (saat menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Jember) yang menjadi Penanggung Jawab penyelenggaraan penulisan dan penerbitan buku tersebut dalam Kata Pengantar Buku berharap buku ini " ...... dapat dijadikan kamus yang setiap saat bisa kita buka kembali untuk diambil hikmahnya dalam menapak menuju kebaikan jalannya pemerintahan di masa masa yang akan datang.
          Bagian belakang buku tersebut ditulis "Buku ini tidak diperjual belikan. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi tanpa persetujuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jember". Buku ini dibiayai dengan Dana APBD, sehingga pertanggungjawabannya tidak hanya sekedar hadirnya fisik buku, namun isi buku selayaknya dipertanggungjawabkan secara yuridis.

Permasalahan
          Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari isi buku yang diterbitkan oleh Sekretaris DPRD Kabupaten Jember tersebut, khususnya Buku I (Satu)
          Pertama, definisi kewilayahan dalam Perkembangan Kabupaten Jember. Bab II dengan judul Jember Jaman Penjajahan (hal. 21 sampai dengan 87 Buku I). Pada bab ini disebutkan " Distrik (Kecamatan) Djember, Afdeeling (Kawedanan) Bondowoso, Regentscaap (Kabupaten) Penarukan".
          Hal ini berbeda nantinya dengan penjelasan dalam "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember. Onderdistrik adalah Kecamatan yang dikepalai oleh asisten wedono yang kemudian disebut Camat, distrik merupakan kawedanan yang dikepalai seorang wedono, sedang afdelling dan regentschap (bukan regentscaap) keduanya mengacu pada Kabupaten yang di kepalai adipati / Pati / regents.
          Persoalan definisi akan mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap pemahaman ketatanegaraan, terutama di masa Kolonial. Sedangkan struktur ketatanegaraan di masa sekarang merupakan kelanjutan dari masa kolonial.
          Definisi ini berdampak dalam pengambilan sumber data tentang permulaan Kabupaten Jember. Umumnya Kabupaten Jember berawal di jadikan Jember sebagai Regentschap (bukan regentscaap) yang secara resmi berlaku sejak tanggal 1 Januari 1929 berdasarkan staatblads No. 322 tahun 1928.
          Sesungguhnya, keberadaan Jember sebagai Regentschap telah ada sejak abad 19 Masehi, bahkan sebelumnya. Ini dibuktikan dengan adanya Regentschap Poeger pada awal abad ke 19 yang wilayahnya adalah wilayah Regentschap Djember dan luas hanya selisi kurang dari km persegi.
          Kedua, Permasalahan pengambilan sumber. Hal yang fatal, kalau ini terbukti kebenaran maka Buku I dari DPRD Kabupaten Jember harus direvisi, mengutip sumber dari sumber yang tidak seharusnya disebutkan dan isi sumber itu berbeda dengan isi sumber awalnya.
          Upaya mengkoreksi isi buku, terutama permasalahan kedua, telah kami ajukan surat tertulis kepada Sekretaris DPRD Kabupaten Jember (terlampir). Namun tidak ada tanggapan resmi / tertulis apakah dari pihak kami yang salah, atau dari isi buku itu yang salah sehingga mengambang.
          Dasar asal musabab dan permasalahan di atas maka disusunlah tulisan "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" yang hadir sebagai bacaan umum.
Tujuan dari ditulisnya buku "Menyibak Masa Lalu Kabupaten Jember" ini adalah menyajikan sumber-sumber pembanding tentang keberadaan Pemerintahan Kabupaten Jember di masa lalu. Sehingga nantinya bisa menjadi kamus pembanding yang perlu dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran Sejarah Kabupaten secara utuh. Proyek "Menyibak Masa Lalu Kabupaten Jember" meupakan swadaya untuk memuncul referensi tentang Sejarah Kabupaten Jember dengan validitas yang dapat dipertanggung jawabkan untuk generasi masa depan.

Skenario Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember
          Tulisan "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" ini tersusun dalam tiga bagian utama, yaitu:
Bagian Pertama         : Perkembangan Pemerintahan Kabupaten Jember
                   - Dinamika Pemerintahan Di Kabupaten Jember
                   - Sosial Kultural Masyarakat Jember yang Multikultural
                   - Struktur Wilayah Administrasi Pemerintahan Dari Masa                      ke Masa
Bagian Kedua            : Dari Regentschap Poeger Menjadi Regentschap Djember
                   - Eksistensi Regentschap Poeger
                   - Dinamika Perubahan Dari Selatan Ke Utara
                   - Faktor Endogen dan Eksogen
                   - Dinamika Perlawanan Melawan Kolonialisasi
                   - Afdeling Menjadi Regentschap
Bagian Ketiga             : Antara Pendudukan Jepang Sampai Pengakuan Kedaulatan RI
                   - Pemerintahan Pendudukan Jepang di wilayah Jember
                   - Sosial Kultural Masa Pendudukan Jepang
                   - Awal Kemerdekaan
                   - Pemerintahan di Masa Perang Kemerdekaan
                   - Dinamika Sosial Kultural
          Tulisan "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" ini sebagai bahan pembanding bukanlah tulisan yang sempurna. Keterbatasan yang menjadi halangan utama, yaitu minimnya anggaran pendanaan untuk melakukan penelusuran sumber dan penelitian lebih mendalam. Dana pengerjaan Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember bukan berasal dari dana APBD atau APBN, namun swadaya dari pihak-pihak yang bersimpati dengan misi, tujuan dan aktifitas Taman Baca Budaya (TBB) SALAM. (Bersambung)

Sebelum diterbitkan sebagai buku, artikel perbab dari tulisan Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember ditampilkan dalam www.majalahtelapak.blogspot.com dengan tujuan untuk mendapat masukan dan kritik dari banyak kalangan.

Penanggung Jawab dan Ketua Tim : Y. Setiyo Hadi

Upaya ini sebagai bagian dari realisasi DJEMBER History Information Center.

Ayo yang berminat membantu dana untuk realisasi "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" ...... bantu dana.... hubungi via sms ke : 081232299854 (sebut identitas jelas dan tulis "Bantu Dana") dan fb: Setiyo Hadi
fb: Mas Yopi

Rabu, 16 Januari 2013

DJALEBUG : Keterangan Awal Tentang Perjalanan Masa Lalu Kecamatan Jelebuk Kabupaten Jember



(Sebutan Jelebug Oleh Franz Junghuhn Penemu Kina tatkala Berkunjung di Jelbuk Pada Bulan Oktober 1844)

Oleh
Tim DJEMBER History Informasi
Ketua Tim : Y. Setiyo Hadi

Jelbuk adalah salah satu nama dari 31 Kecamatan di Kabupaten Jember. Kecamatan Jelbuk. Kecamatan Jelbuk berada dijalur jalan antara kota Jember dan Bondowoso (arah ke utara dari Jember).

Ketenaran wilayah Jelbuk telah dikenal luas, bahkan mendunia, tatkala ada perusahan dagang perkebunan Eropa yang menggunakan nama wilayah ini.  Nama perusahaan dagang perkebunan bernama Cultuur Maatschappij Djelboek.

Luas wilayah kecamatan Jelebuk 65,06 km². Kecamatan ini berada di dataran tinggi antara kota Jember dengan Bondowoso. Ketinggian wilayah dari permukaan laut di Kecamatan Jelbuk antara 32 m dpl sampai 2000 m dpl.

Kecamatan Jelbuk memiliki potensi sebagai perkebunan untuk berbagai jenis tanaman industri. Potensi ini telah dilihat oleh ilmuwan botani Eropa, Frans Junghuhn, sejak tahun 1844.

Frans Junghuhn ilmuwan berkebangsaan Jerman pernah melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa untuk mendata berbagai jenis tanaman (botani) pada tahun 1844. Hasil penelusurannya, Junghuhn tuangkan dalam buku JAVA Seinegestalt, Pflanzendecke un Innere Bauart yang diterbitkan pada tahun 1854.

Dalam buku Junghuhn tersebut terdapat informasi bahwa Junghuhn berkunjung ke Jalebug (Junghuhn menyebut nama Jelbuk),  Suger Lor dan Pasnan pada bulan Oktober 1844 (halaman 622). Junghuhn menyebut wilayah-wilayah ini sebagai desa-desa yang dikelilingi oleh tembok pegunungan.

Nyatalah dari data yang diungkapkan Junghuhn di atas bahwa nama Jelbuk (Junghuhn menyebutnya sebagai Jalebuk) telah ada pada tahun 1844. Sehingga dapat dinyatakan bahwa secara turun temurun dalam jangka 100 tahun sebelum tahun 1844 nama Jelbuk sebagai suatu nama wilayah (desa) telah ada.

Diterangkan pula oleh Junghuhn, bahwa untuk untuk pengembangan tanaman perkebuna. Ini yang kemudian pada 1859  dilanjutkan oleh perusahaan dagang perkebunan Eropa yang memakai nama Jelbuk, yaitu Cultuur Maatschappij Djelboek yang didirikan  oleh Ry van Beest Holle dan Geertsema bersamaan dengan George Birnie, C. Sandenberg dan AD van Gennep yang mendirikan Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD)

Nama Jelbuk diyakini masyarakat sekitar Jelbuk telah ada sejak jaman Mojopahit. Kemudian berkembang sebagai bagian dari Kerajaan Blambangan di bagian pojok timur Jawa.

Mari Bergabung Dengan DJEMBER History Information yang dikelola oleh Taman Baca Budaya (TBB) SALAM Jember sebagai donatur. Dengan donatur Rp. 50.000,- / bulan mendapatkan paket informasi Sejarah Jember setiap bulan yang senantiasa update bulan dan berhak untuk mendapat informasi sesuai kebutuhan donatur.

Contact: 081232299854 (sms: dengan menyebutkan nama alamat singkat dan kepentingan tentang sejarah)

Sabtu, 05 Januari 2013

SUSMIADI (SHOEZ) = Menapak Jalan Melalui Lukisan (1)

Shoez bersama "SANG MBAH"
Shoes, demikian nama keren dari Susmiadi, terlahir tanggal 1 Februari 1962 di kota Santri Gus Dur Jombang. Pendidikan dasar, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama dilalui di kota ini.

Bakat lukisnya sudah terlihat sejak kelas 5 SD. Pada tahun 1975 mulai melukis. Pengalaman dan pengetahuan melukis dia dapat dari kakak kandungnya yang bernama Eko Munariyo (almarhum). Eko Munariyo ini dikenal sebagai pelukis ilustrasi.


Shoez kecil melukis foto dengan menggunakan pensil konte dengan warna hitam putih. Selanjut, dia melukis menggunakan cat kayu merk minilux. Hasil lukisannya dijual keliling dari pentas ludruk satu ke satu tempat lainnya.


Pengalaman Shoez saat kelas 5 SD pernah disuruh mengajar lukis kepada teman-temannya sebaya. Guru yang menyuruh Shoez untuk mengajar adalah Pak Supangat.


Cara belajar melukis Shoez dengan mencontoh karya-karya pelukis terkenal di masanya. Dia membeli kalender yang berisi lukisan-lukisan karya Sochib, Muhdi R., dan sebagainya. Keterkaguman terhadap Soekarno mendorong dia membeli katalog lukisan Bung Karno.


Pertimbangan ekonomi yang kekurangan dan ajakan Pak De Sakeh , Shoez hijrah ke Kencong melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Bangunan pada tahun 1980. Biaya sekolah Shoez menjadi tanggungan dari Pak De Sakeh.


Sejak tahun 1980 ini Shoez menggunakan cat lukis dalam menghasilkan karya lukisnya. Saat kelas 2 Sekolah Teknik Bangunan, Shoez  bekerja di Dinas Pengairan sebagai tenaga harian proyek. (Yopi, 05012013)

Sabtu, 22 Desember 2012

DALANG CILIK BERAKSI DI FESTIVAL PEDALANGAN NUSANTARA

Aksi Dalang Cilik, Ki Muhammad Nurcahyo (10 thn), dengan lakon "Petruk Kembar"

Telapak 22/12/12.Dalang cilik, Ki Muhammad Nurcahyo (10 tahun) yang berasal dari Desa Curah Nongko Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember, tampil sebagai satu-satunya peserta termuda dalam Festival Pedalangan Nusantara (Fesdanu), 22/12/2012. Festival Pedalangan Nusantara ini diadakan di halaman RRI Stasiun Jember selama dua hari, Sabtu dan Minggu 22 dan 23 Desember 2012.


Festival Pedalangan Nusantara (Fesdanu) ini diselenggarakan oleh Yayasan Karya Bhakti (YKB) Jember dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jember. Fesdanu tahun ini diikuti puluhan dalang dari berbagai wilayah pulau Jawa dan Madura. Tujuan utama dari diadakan Fesdanu ini adalah Melestarikan Budaya dan Membangun Karakter Bangsa.

Rabu, 19 Desember 2012

Dari Kencong News Menjadi Majalah Telapak


Potensi di sekeliling kita sering kita abaikan. Sekecil apapun bentuk dari potensi mempunyai manfaat yang tidak dapat diduga sebelumnya. Ini menjadi misi dari terbitnya Majalah Telapak, yaitu: Menggali dan Mengembangkan Potensi Untuk Kesejahteraan Bersama.

Majalah Telapak ini diterbitkan oleh Taman Baca Budaya (TBB) SALAM berupaya menelaah berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling kita serta menganalisa kondisi yang terjadi dalam bentuk tulisan jurnalistik.

Rubrik-rubrik yang ditampilkan dengan tulisan dan analisa sesuai kondisi dan kebutuhan dalam konteks sebagai Bangsa Indonesia dalam arti yang luas. Tidak mengemukakan kepentingan suatu golongan.

Diharapkan ini memberikan kontribusi dalam upayah penyelesaian berbagai problem kebangsaan di Indonesia pada khususnya, serta ikut serta di pentas global.

JAWADWIPA MERUPAKAN RUMAH PERADABAN TERPENTING DI DUNIA

Di tengah samudra yang mengepung Nusantara, Jawadwipa membentang bak hamparan permadani hijau yang menjadi rahim bagi lahirnya peradaban agu...