Kamis, 21 Mei 2015

MENJELAHI DUNIA PERAKIKAN SEMAKIN MENGASYIKKAN




Oleh Y. Setiyo Hadi

Batu mulia yang menjadi obyek utama dari dunia perakikan semakin hari semakin mengasyikkan. Batu mulia merupakan komoditas penting dari masa lalu, kini dan masa depan.
Ribuan tahun lama, batu mulia dicari manusia untuk kecantikan, metafisik, serta penggunaan komersial yang sifatnya ekonomis. Di masa dulu, batu mulia merupakan batu alam yang keindahan dan keunikan teruji, kemudian di masa modern berkembang batu mulia sintesis.
Batu mulia muncul di dunia dengan keindahannya masing-masing dengan berbagai warna yang menakjubka. Batu mulia berasal dari proses yang bermula dari bahan batu yang kasar yang kemudian masuk proses pemotongan, pembentukan, serta penghalusan (polishing) sehingga muncul bentuk, warna dan kilau yang menakjubkan.
Berdasarkan proses pembentukannya, batu mulia diklasifikasika dalam lima katagori batu mulia yang pokok, yaitu:
  1. Batu Mulia Alami
Batu mulia yang terbentuk dari lingkungan alam tanpa campur tangan manusia. Batu mulia yang terbentuk dari berbagai cara dalam lingkungan alam sebagai suatu reaksi senyawa kimia yang beragam.
  1. Batu Mulia Asli
Bermula dari batu mulia alami yang kemudian diberlakukan sedemikian rupa dengan berbagai cara untuk meningkatkan penampilannya.
  1. Batu Mulia Sintesis
Batu yang dibuat dalam suatu laboratorium dengan berbagai reaksi kimia buatan sehingga terbentuk menyerupai batu yang asli.
  1. Batu Mulia Imitasi
Menyerupai batu mulia alami, namun tidak memiliki karakteristik fisik yang sama serta komposisi kimia. Harganya jauh lebih murah dari pada bentuk-bentuk alami. Bahan imitasi umumnya berasal dari kaca maupun plastik.
  1. Pemberlakuan Batu Mulia
Berbagai teknik dalam proses perbaikan batu mulia diperlakukan untuk memperbaiki warna dan penampilan batu mulia, baik alami, asli maupun sintesis.
Metode atau cara tertua dalam perberlakuan pemeliharaan batu mulia adalah dengan panas. Metode panasi bagi batu mulia untuk meningkatkan kualitas dan mengubah warna.
Teknologi modern membantu untuk memelihara batu mulia. Teknik modern yang dijalankan seperti laser yang dikendalikan komputer. Pemeliharaan lainnya menggunakan bahan kimia tertentu untuk memelihara batu mulia.
Batu mulia akan bertahan sepanjang masa, dulu, kini, dan masa datang. Hal ini disebabkan karakteristik batu mulia dipergunakan dalam kehidupan manusia sebagai berikut:
  1. Kecantikan dan Penampilan
Batu mulia mempunyai nilai berharga terutama karena keindahan dan kesempurnaan dalam penampilannya. Keindahan dan penampilan batu mulia tergantung dari warna, ukuran dan bentuk/
  1. Daya Tahan Dan Kekerasan
Keawetan, berupa daya tahan dan kekerasan dari batu mulia, menjadikan pertimbangan bagi keberlanjutan akik sebagai komoditas ekonomi/
  1. Unik / Keanehan
Batu mulia yang unik / aneh memunculkan rasa eksklusivitas serta kebanggaan untuk memiliki batu mulia yang dimaksud.
  1. Mitologi
Aspek mistis yang dibangung dapat menentukan pentingnya suatu batu mulia
Demikianlah uraian singkat, ternyata bergelut di dunia perakikan semakin mengasyikkan. Hal inilah yang menjadikan pendorong munculnya nilai ekonomis dari batu akik.

MENGENAL LEBIH LANJUT DUNIA PERAKIKAN




Oleh
Y. Setiyo Hadi

Awal Percakapan
Ada keraguan pada beberapa kalangan berkaitan terjadi Booming Perakikan di era tahun 2015 ini. Beberapa kalangan menganggap booming perakikan akan bernasib sama dengan seperti booming ikan lohan, tanaman anturium, serta booming2 lainnya yang seumur jagung tidak abadi.

Mari kita mengenal lebih lanjut perkembangan dunia perakikan. Untuk menguji tanggapan beberapa kalangan yang pesimis menyatakan bahwa booming perakikan akan bernasib sama dengan booming anturium yang bernafas sesaat.

Perakikan (akik yang dikenal masyarakat Nusantara) di dunia barat dikenal sebagai Gemstone atau Batu Mulia atau permata. Gemstone menjadi istilah mendunia yang berkembang berabad-abad untu menunjukkan hasil dan pengolahan batu mulia.

Gem stone atau batu mulia secara umum dibagi menjadi dua katagori, yaitu precious stones dan semi precious stones. Precious stones ini yang dikenal sebagai permata, sedangkan semi precious stones kemudian yang dikenal dengan akik.

Secara umum batu mulia, baik permata maupun akik, merupakan kristal mineral yang dibentuk potongan dan dipoles yang umum dipergunakan sebagai perhiasan. Tidak semua jenis batu dapat digunakan sebagai batu mulia, hanya batu tertentu yang mempunyai kriteria sebagai batu mineral.

Umumnya, batu yang digunakan sebagai batu mulia memiliki kandungan organik tertentu serta memiliki kekerasan yang lebih dibandingkan dengan jenis batu lainnya. Batu mulia memiliki kekerasan yang lebih dibandingkan yang bukan batu mulia.

Pengolahan dan penggunaan batu mulia telah ada sejak zaman prasejaraah. Dari berbagai peninggalan sejarah peradaban umat manusia dapat ditemukan awal zaman kuno berbagai ukiran permata dalam berbagai peninggalan batu, seperti juga yang terukir dalam cangkir atau berbagai peralatan kehidupan manusia lainnya.

Batu mulia dalam sejarah umat manusia memunculkan profesi atau pekerjaan yang berkaitan dengan pengolahan proses menjadikan batu mulia. Para pembuat batu dikenal dengan sebutan sebagai pemotong batu mulia atau gemcutter.

Perdagangan batu mulia menjadi abadi sepanjang sejarah umat manusia sebagai penikmat kebesaran Tuhan Maha Kuasa dalam menciptakan bebatuan untuk kehidupan manusia. Muncul industri batu mulia (gemstone industry) di berbagai belahan dunia sejak berabad-abad lalu serta munculnya kajian ilmiah tentang  batu mulia yang dikenal sebagai gemology menjadi bukti keabadian dari penikmatan batu mulia dari dulu, sekaran, serta sampai di masa datang.

Karakteristik Dan Klasifikasi Batu Mulia
Batu mulia dibentuk sedekian rupa dibedakan berdasarkan karakteristiknya dan kualitasnya. Pembagian tradisilonal di Barat yang berakar dari tradisi Yunani Kuno membagi batu hias ini menjadi dua. Pertama, batu mulia (precious stones) seperti berlian, rubi, safir, dan zamrud. Kedua, batu semi mulia (semi precious stones) yang dikenal di Indonesia / Nusantara sebagai batu akik.

Batu mulia sejak zaman kuno memperlihatkan kelangkaan batu dan kualitas batu. Batu mulia yang tergolongkan dalam precious stones memperlihatkan tembus warnanya dan bentuknya. Batu mulia memiliki kadar kekerasan dari 8 sampai 10 pada skala Mohs.

Klasifikasi atau pembagian jenis batu mulia dapat berdasarkan warna, tembus dan kekerasan batu. Pembagian ini bisa mencerminkan nilai yang terkandung dalam batu mulia yang berbeda-beda. Garne relatif murah. Garnet hijau yang dikenal sebagai Tsavorite lebih berharga dibandingkan zamrud.

Batu-batu semi muliah dapat ditemukan dalam perkembangan sejarah dan arkeologi seni yang dikenal sebagai  hardstone. Penggunaan batu sebagai hiasan dapat ditemukan dalam berbagai peninggalan sejarah dan arkeologi pada berbagai peninggalan sejarah.

Perkembangan di zaman modern, keberadaan batu mulia baik dari sumber maupun proses dan hasil batu mulia di kaji dalam ilmu pengetahuan di bidang GEMOLOGY. Pakar ilmu perbatuan mulia dikenal sebagai GEMOLOGIST.

Pakar gemology mengklasifikasikan karakter batu berdasarkan komposisi dari unsur kimianya dalam sumber batunya. Misalnya, berlian yang berasal dari karbon (C) dan rubi lebih dominan unsur aluminium oksidanya  (Al 2 O).

Selain itu, batu mulia selain diklasifikasikan berdasarkan sistem kristal, juga diklasifikasikan dalam berbagai bagi yang berbeda, jenis, dan varietas yang berbeda-beda. Sistem kristal dalam suatu batu dapat berupa kubi atau trigonal maupun monoklinik, seperti: permata atau batu berlian yang memiliki sistem kristal kubik yang biasanya sebagai octahedrons.

Warna dari batu mulia juga digunakan dalam membedakan penamaan dari berbagai jenis batu mulia. Ruby yang dominan warna merahnya, Emerald berwarna hijau, aquamarine berwarna biru, beryl merah berwarna merah, goshenite tidak berwarna, Heliodor berwarna kuning, serta Morganite berwarna merah muda. Secara ilmiah, batu mulia atau permata diklasifikasikan berdasarkan indeks bias, dispersi, berat jenis, kekerasan, belahan potongan, fraktur, dan kilau dari batu mulia tersebut.

Selasa, 19 Mei 2015

KONSEP WAKTU SEBAGAI AWAL PENDEKATAN SEJARAH




Oleh
Y. Setiyo Hadi (Penulis)

Respon manusia dalam interaksi dengan lingkungan alam sekitarnya menghasilkan persepsi manusia tentang ruang (space) dan waktu (time). Manusia hidup di ruang alam semesta, dan di dalamnya manusia bergerak dalam kerangka interaksinya dengan unsur-unsur alam lainnya.

Gerak yang dialami oleh berbagai unsur dalam semesta, terutama manusia, muncul dari interaksi relasional antara satu unsur dengan unusur lainnnya di alam semesta.  Relasional ini memunculkan adanya jarak dalam ruang yang menghubungkan antara satu unsur dengan unsur lainnya. Antara satu jarak dengan yang lain memiliki jarak tempo untuk berubah dari satu titik ke titik yang lain.

Jarak tempo inilah yang memuncul waktu tempo yang harus dicapai dari satu titik ke titik lainnya yang menjadikan relasional antara unsur di alam semesta. Perpindahan antara satu titik ke titik lainnya di alam semesta ini memuncul apa yang dikenal dengan konsep times atau waktu atau saat. Selanjut, akan muncul tiga konsep waktu sebagai konsekuensi logis dari perpindahan dari satu titik ke titik lainnya di alam semesta, yaitu:
  1. Dulu (Past): posisi di mana sebelumnya berada pada titik tertentu dibandingnya saat berada di titik keberadaannya;
  2. Sekarang (Present) : titik di mana sedang berada;
  3. Akan Datang (Future): titik yang belum ditempati dan akan ditempati sesudah pada titik sedang berada.

Ketiga waktu ini memunculkan Konsep dari Pendekatan Sejarah. Sejarah sendiri dimaknai sebagai peristiwa (titik) yang telah terjadi di masa sebelumnya kita berada kini. Dengan memahami konsep waktu di atas menjadi awal untuk berenang lebih lanjut dalam pendekatan sejarah.

Jember 19 May 2015

TEKNIK PEMOTONGAN BATU AKIK (CUTTING)



Add caption


Ditulis Oleh: Y. Setiyo Hadi (Penulis / 081232299854 – sms aja terlebih dulu)

Bahan batu yang berbentuk bongkahan (rough) untuk kemudian dijadikan sebagai akik atau permata melalui proses pemotong / pembentukan serta pemolesan. Batu dipilih sesuai kualitas yang ada kemudian dilakukan pemrosesan sehingga menjadi batu mulia atau akik yang siap dipasarkan.
Dalam dunia perakikan setidaknya terdapat dua teknik dalam pembuatan dan pembentukan batu bahan menjadi akik yang siap dipasarkan. Teknik ini mengacu pada gaya dan bentuk yang dihasilkan dari proses pembuatan batu akik. Kedua teknik tersebut adalah:

1.                  Cabochon
Cabochon berasal dari kata bahasa Prancis “caboche” yang berarti kepala atau kenop atau kubah kecil. Istilah cabochon mengacu pada bentuk cutting / pemotongan dengan permukaan yang cembung dan dibagian sisi lainnya datar / rata. Bentuk umumnya dari cabochon adalah oval.  Aplikasi teknik ini menunjukkan buram.
Sesungguhnya, selain bentuk oval, dalam teknik cabochon batu bahan kemudian dibentuk seperti bulat, bagaikan tetes air, yang memiliki permukaan cembung dan sisi lainnya datar. Pemotongan “Cabs” atau cembung merupakan pemotongan yang umum dipakai.

2.                  Faceting
Faceting merupakan teknik yang memotong batu dengan berbagai sudut di sisinya. Teknik yang menghasilkan bentuk yang transparan alias tembus. Teknik yang digunakan dengan memotong batu dengan beberapa sisi sudut bagian batu.
Nilai ekonomis dari proses pemotongan faceting lebih tinggi ketimbang pemotongan teknik cabochon. Transparan atau tembus dari faceting menjadi batu yang telah diproses akan terlihat keluar kecermelangannya.
Kedua teknik ini, cabochon dan faceting, merupakan bentuk yang paling umum yang digunakan dalam dunia perakian.


SUMBER:


JAWADWIPA MERUPAKAN RUMAH PERADABAN TERPENTING DI DUNIA

Di tengah samudra yang mengepung Nusantara, Jawadwipa membentang bak hamparan permadani hijau yang menjadi rahim bagi lahirnya peradaban agu...