Sabtu, 19 Januari 2013

MENYIBAK TABIR MASA LALU KABUPATEN JEMBER


(BAHAN PEMBANDING DARI BUKU YANG DITERBITKAN SEKRETARIS DPRD KABUPATENJEMBER)

Awal Musabab
          Buku Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember: Bahan Pembanding Dari Buku Yang Diterbitkan Sekretaris DPRD Kabupaten Jember, ditulis untuk perbandingan dengan buku yang berjudul DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DALAM PERKEMBANGAN KABUPATEN JEMBER BUKU 1 (SATU) DOKUMEN SAMPAI DENGAN 1971. Buku yang diterbitkan Sekretariat DPRD Kabupaten Jember terdiri dua buku yang berupaya menggambarkan perjalanan DPRD Kabupaten Jember dalam konteks perkembangan Pemerintahan Kabupaten Jember secara umum.
          Buku I (Satu) yang diterbitkan oleh Sekretariat DPRD Kabupaten Jember tersebut berisikan tentang latar belakang sejarah (masa lalu) dari perkembangan Pemerintahan Kabupaten Jember sampai masa Awal Kemerdekaan (Masa Perang Kemerdekaan) serta kemunculan DPRD Kabupaten Jember dalam konteks perkembangan Kabupaten Jember sampai tahun 1971.
          Seperti yang diakui oleh Drs. Subadri Habib, M.Si. sebagai Ketua Tim Penyusun dalam pengantar buku tersebut, "Walaupun buku ini berisi sebuah perjalanan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Dalam Perkembangan Kabupaten Jember, tetapi ini ditulis kurang menggunakan alur yang sistematis dengan metodologi penulisan yang ilmiah, sehingga buku ini belum sepenuhnya sempurna, karena itu menjadi kewajiban semua pihak untuk ikut menyempurnakannya, dengan memberikan kritik koreksi yang konstruktif .... ".
          Drs. Bambang Hariono (saat menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Jember) yang menjadi Penanggung Jawab penyelenggaraan penulisan dan penerbitan buku tersebut dalam Kata Pengantar Buku berharap buku ini " ...... dapat dijadikan kamus yang setiap saat bisa kita buka kembali untuk diambil hikmahnya dalam menapak menuju kebaikan jalannya pemerintahan di masa masa yang akan datang.
          Bagian belakang buku tersebut ditulis "Buku ini tidak diperjual belikan. Dilarang memperbanyak sebagian atau seluruh isi tanpa persetujuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Jember". Buku ini dibiayai dengan Dana APBD, sehingga pertanggungjawabannya tidak hanya sekedar hadirnya fisik buku, namun isi buku selayaknya dipertanggungjawabkan secara yuridis.

Permasalahan
          Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari isi buku yang diterbitkan oleh Sekretaris DPRD Kabupaten Jember tersebut, khususnya Buku I (Satu)
          Pertama, definisi kewilayahan dalam Perkembangan Kabupaten Jember. Bab II dengan judul Jember Jaman Penjajahan (hal. 21 sampai dengan 87 Buku I). Pada bab ini disebutkan " Distrik (Kecamatan) Djember, Afdeeling (Kawedanan) Bondowoso, Regentscaap (Kabupaten) Penarukan".
          Hal ini berbeda nantinya dengan penjelasan dalam "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember. Onderdistrik adalah Kecamatan yang dikepalai oleh asisten wedono yang kemudian disebut Camat, distrik merupakan kawedanan yang dikepalai seorang wedono, sedang afdelling dan regentschap (bukan regentscaap) keduanya mengacu pada Kabupaten yang di kepalai adipati / Pati / regents.
          Persoalan definisi akan mempengaruhi pemahaman pembaca terhadap pemahaman ketatanegaraan, terutama di masa Kolonial. Sedangkan struktur ketatanegaraan di masa sekarang merupakan kelanjutan dari masa kolonial.
          Definisi ini berdampak dalam pengambilan sumber data tentang permulaan Kabupaten Jember. Umumnya Kabupaten Jember berawal di jadikan Jember sebagai Regentschap (bukan regentscaap) yang secara resmi berlaku sejak tanggal 1 Januari 1929 berdasarkan staatblads No. 322 tahun 1928.
          Sesungguhnya, keberadaan Jember sebagai Regentschap telah ada sejak abad 19 Masehi, bahkan sebelumnya. Ini dibuktikan dengan adanya Regentschap Poeger pada awal abad ke 19 yang wilayahnya adalah wilayah Regentschap Djember dan luas hanya selisi kurang dari km persegi.
          Kedua, Permasalahan pengambilan sumber. Hal yang fatal, kalau ini terbukti kebenaran maka Buku I dari DPRD Kabupaten Jember harus direvisi, mengutip sumber dari sumber yang tidak seharusnya disebutkan dan isi sumber itu berbeda dengan isi sumber awalnya.
          Upaya mengkoreksi isi buku, terutama permasalahan kedua, telah kami ajukan surat tertulis kepada Sekretaris DPRD Kabupaten Jember (terlampir). Namun tidak ada tanggapan resmi / tertulis apakah dari pihak kami yang salah, atau dari isi buku itu yang salah sehingga mengambang.
          Dasar asal musabab dan permasalahan di atas maka disusunlah tulisan "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" yang hadir sebagai bacaan umum.
Tujuan dari ditulisnya buku "Menyibak Masa Lalu Kabupaten Jember" ini adalah menyajikan sumber-sumber pembanding tentang keberadaan Pemerintahan Kabupaten Jember di masa lalu. Sehingga nantinya bisa menjadi kamus pembanding yang perlu dikaji lebih lanjut untuk mendapatkan gambaran Sejarah Kabupaten secara utuh. Proyek "Menyibak Masa Lalu Kabupaten Jember" meupakan swadaya untuk memuncul referensi tentang Sejarah Kabupaten Jember dengan validitas yang dapat dipertanggung jawabkan untuk generasi masa depan.

Skenario Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember
          Tulisan "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" ini tersusun dalam tiga bagian utama, yaitu:
Bagian Pertama         : Perkembangan Pemerintahan Kabupaten Jember
                   - Dinamika Pemerintahan Di Kabupaten Jember
                   - Sosial Kultural Masyarakat Jember yang Multikultural
                   - Struktur Wilayah Administrasi Pemerintahan Dari Masa                      ke Masa
Bagian Kedua            : Dari Regentschap Poeger Menjadi Regentschap Djember
                   - Eksistensi Regentschap Poeger
                   - Dinamika Perubahan Dari Selatan Ke Utara
                   - Faktor Endogen dan Eksogen
                   - Dinamika Perlawanan Melawan Kolonialisasi
                   - Afdeling Menjadi Regentschap
Bagian Ketiga             : Antara Pendudukan Jepang Sampai Pengakuan Kedaulatan RI
                   - Pemerintahan Pendudukan Jepang di wilayah Jember
                   - Sosial Kultural Masa Pendudukan Jepang
                   - Awal Kemerdekaan
                   - Pemerintahan di Masa Perang Kemerdekaan
                   - Dinamika Sosial Kultural
          Tulisan "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" ini sebagai bahan pembanding bukanlah tulisan yang sempurna. Keterbatasan yang menjadi halangan utama, yaitu minimnya anggaran pendanaan untuk melakukan penelusuran sumber dan penelitian lebih mendalam. Dana pengerjaan Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember bukan berasal dari dana APBD atau APBN, namun swadaya dari pihak-pihak yang bersimpati dengan misi, tujuan dan aktifitas Taman Baca Budaya (TBB) SALAM. (Bersambung)

Sebelum diterbitkan sebagai buku, artikel perbab dari tulisan Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember ditampilkan dalam www.majalahtelapak.blogspot.com dengan tujuan untuk mendapat masukan dan kritik dari banyak kalangan.

Penanggung Jawab dan Ketua Tim : Y. Setiyo Hadi

Upaya ini sebagai bagian dari realisasi DJEMBER History Information Center.

Ayo yang berminat membantu dana untuk realisasi "Menyibak Tabir Masa Lalu Kabupaten Jember" ...... bantu dana.... hubungi via sms ke : 081232299854 (sebut identitas jelas dan tulis "Bantu Dana") dan fb: Setiyo Hadi
fb: Mas Yopi

Rabu, 16 Januari 2013

DJALEBUG : Keterangan Awal Tentang Perjalanan Masa Lalu Kecamatan Jelebuk Kabupaten Jember



(Sebutan Jelebug Oleh Franz Junghuhn Penemu Kina tatkala Berkunjung di Jelbuk Pada Bulan Oktober 1844)

Oleh
Tim DJEMBER History Informasi
Ketua Tim : Y. Setiyo Hadi

Jelbuk adalah salah satu nama dari 31 Kecamatan di Kabupaten Jember. Kecamatan Jelbuk. Kecamatan Jelbuk berada dijalur jalan antara kota Jember dan Bondowoso (arah ke utara dari Jember).

Ketenaran wilayah Jelbuk telah dikenal luas, bahkan mendunia, tatkala ada perusahan dagang perkebunan Eropa yang menggunakan nama wilayah ini.  Nama perusahaan dagang perkebunan bernama Cultuur Maatschappij Djelboek.

Luas wilayah kecamatan Jelebuk 65,06 km². Kecamatan ini berada di dataran tinggi antara kota Jember dengan Bondowoso. Ketinggian wilayah dari permukaan laut di Kecamatan Jelbuk antara 32 m dpl sampai 2000 m dpl.

Kecamatan Jelbuk memiliki potensi sebagai perkebunan untuk berbagai jenis tanaman industri. Potensi ini telah dilihat oleh ilmuwan botani Eropa, Frans Junghuhn, sejak tahun 1844.

Frans Junghuhn ilmuwan berkebangsaan Jerman pernah melakukan perjalanan keliling Pulau Jawa untuk mendata berbagai jenis tanaman (botani) pada tahun 1844. Hasil penelusurannya, Junghuhn tuangkan dalam buku JAVA Seinegestalt, Pflanzendecke un Innere Bauart yang diterbitkan pada tahun 1854.

Dalam buku Junghuhn tersebut terdapat informasi bahwa Junghuhn berkunjung ke Jalebug (Junghuhn menyebut nama Jelbuk),  Suger Lor dan Pasnan pada bulan Oktober 1844 (halaman 622). Junghuhn menyebut wilayah-wilayah ini sebagai desa-desa yang dikelilingi oleh tembok pegunungan.

Nyatalah dari data yang diungkapkan Junghuhn di atas bahwa nama Jelbuk (Junghuhn menyebutnya sebagai Jalebuk) telah ada pada tahun 1844. Sehingga dapat dinyatakan bahwa secara turun temurun dalam jangka 100 tahun sebelum tahun 1844 nama Jelbuk sebagai suatu nama wilayah (desa) telah ada.

Diterangkan pula oleh Junghuhn, bahwa untuk untuk pengembangan tanaman perkebuna. Ini yang kemudian pada 1859  dilanjutkan oleh perusahaan dagang perkebunan Eropa yang memakai nama Jelbuk, yaitu Cultuur Maatschappij Djelboek yang didirikan  oleh Ry van Beest Holle dan Geertsema bersamaan dengan George Birnie, C. Sandenberg dan AD van Gennep yang mendirikan Landbouw Maatschappij Oud Djember (LMOD)

Nama Jelbuk diyakini masyarakat sekitar Jelbuk telah ada sejak jaman Mojopahit. Kemudian berkembang sebagai bagian dari Kerajaan Blambangan di bagian pojok timur Jawa.

Mari Bergabung Dengan DJEMBER History Information yang dikelola oleh Taman Baca Budaya (TBB) SALAM Jember sebagai donatur. Dengan donatur Rp. 50.000,- / bulan mendapatkan paket informasi Sejarah Jember setiap bulan yang senantiasa update bulan dan berhak untuk mendapat informasi sesuai kebutuhan donatur.

Contact: 081232299854 (sms: dengan menyebutkan nama alamat singkat dan kepentingan tentang sejarah)

Sabtu, 05 Januari 2013

SUSMIADI (SHOEZ) = Menapak Jalan Melalui Lukisan (1)

Shoez bersama "SANG MBAH"
Shoes, demikian nama keren dari Susmiadi, terlahir tanggal 1 Februari 1962 di kota Santri Gus Dur Jombang. Pendidikan dasar, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama dilalui di kota ini.

Bakat lukisnya sudah terlihat sejak kelas 5 SD. Pada tahun 1975 mulai melukis. Pengalaman dan pengetahuan melukis dia dapat dari kakak kandungnya yang bernama Eko Munariyo (almarhum). Eko Munariyo ini dikenal sebagai pelukis ilustrasi.


Shoez kecil melukis foto dengan menggunakan pensil konte dengan warna hitam putih. Selanjut, dia melukis menggunakan cat kayu merk minilux. Hasil lukisannya dijual keliling dari pentas ludruk satu ke satu tempat lainnya.


Pengalaman Shoez saat kelas 5 SD pernah disuruh mengajar lukis kepada teman-temannya sebaya. Guru yang menyuruh Shoez untuk mengajar adalah Pak Supangat.


Cara belajar melukis Shoez dengan mencontoh karya-karya pelukis terkenal di masanya. Dia membeli kalender yang berisi lukisan-lukisan karya Sochib, Muhdi R., dan sebagainya. Keterkaguman terhadap Soekarno mendorong dia membeli katalog lukisan Bung Karno.


Pertimbangan ekonomi yang kekurangan dan ajakan Pak De Sakeh , Shoez hijrah ke Kencong melanjutkan pendidikan di Sekolah Teknik Bangunan pada tahun 1980. Biaya sekolah Shoez menjadi tanggungan dari Pak De Sakeh.


Sejak tahun 1980 ini Shoez menggunakan cat lukis dalam menghasilkan karya lukisnya. Saat kelas 2 Sekolah Teknik Bangunan, Shoez  bekerja di Dinas Pengairan sebagai tenaga harian proyek. (Yopi, 05012013)

Sabtu, 22 Desember 2012

DALANG CILIK BERAKSI DI FESTIVAL PEDALANGAN NUSANTARA

Aksi Dalang Cilik, Ki Muhammad Nurcahyo (10 thn), dengan lakon "Petruk Kembar"

Telapak 22/12/12.Dalang cilik, Ki Muhammad Nurcahyo (10 tahun) yang berasal dari Desa Curah Nongko Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember, tampil sebagai satu-satunya peserta termuda dalam Festival Pedalangan Nusantara (Fesdanu), 22/12/2012. Festival Pedalangan Nusantara ini diadakan di halaman RRI Stasiun Jember selama dua hari, Sabtu dan Minggu 22 dan 23 Desember 2012.


Festival Pedalangan Nusantara (Fesdanu) ini diselenggarakan oleh Yayasan Karya Bhakti (YKB) Jember dan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Jember. Fesdanu tahun ini diikuti puluhan dalang dari berbagai wilayah pulau Jawa dan Madura. Tujuan utama dari diadakan Fesdanu ini adalah Melestarikan Budaya dan Membangun Karakter Bangsa.

Rabu, 19 Desember 2012

Dari Kencong News Menjadi Majalah Telapak


Potensi di sekeliling kita sering kita abaikan. Sekecil apapun bentuk dari potensi mempunyai manfaat yang tidak dapat diduga sebelumnya. Ini menjadi misi dari terbitnya Majalah Telapak, yaitu: Menggali dan Mengembangkan Potensi Untuk Kesejahteraan Bersama.

Majalah Telapak ini diterbitkan oleh Taman Baca Budaya (TBB) SALAM berupaya menelaah berbagai peristiwa yang terjadi di sekeliling kita serta menganalisa kondisi yang terjadi dalam bentuk tulisan jurnalistik.

Rubrik-rubrik yang ditampilkan dengan tulisan dan analisa sesuai kondisi dan kebutuhan dalam konteks sebagai Bangsa Indonesia dalam arti yang luas. Tidak mengemukakan kepentingan suatu golongan.

Diharapkan ini memberikan kontribusi dalam upayah penyelesaian berbagai problem kebangsaan di Indonesia pada khususnya, serta ikut serta di pentas global.

Jumat, 26 Oktober 2012

“DUKUNG 100% INDUSTRIALISASI DI JEMBER!!!” : Setiyo Hadi Ketua Taman Baca Budaya (TBB) SALAM Jember (Bagian 1)



Setiyo Hadi, Ketua TBB SALAM Jember

Banyak Kalangan yang menentang kebijakan Bupati Djalal (Bupati Jember) yang berupaya melakukan industrialisasi di Jember. Kebijakan ini dianggap menabrak Rencana Tata Ruang, baik tingkat nasional maupun propinsi Jawa Timur.

Di tengah penentangan terhadap kebijakan industrialisasi Pak Djalal, muncul suara “Dukung 100% Industrialisasi Di Jember!!!” yang disuarakan Setiyo Hadi, Ketua Taman Baca Budaya (TBB) SALAM Jember. Berikut ini wawancara Kencong News dengan Setiyo Hadi.

Kencong News:
Apa pendapat anda tentang industrialisasi yang dicanangkan oleh Pak Djalal (Bupati Jember)?
Setiyo Hadi :
Apa yang dilakukan Pak Djalal itu sebetulnya hal yang lumrah dan biasa aja, tidak ada yang perlu dirisaukan. Bahkan kalau memang benar-benar bisa menyejahterakan rakyat Jember kebijakan itu harus didukung.

Kencong News:
Apa harus didukung meskipun kebijakan tersebut melanggar aturan, Rencana Tata Ruang, yang lebih di atasnya dan akan mengurangi lahan pertanian sekitar 50%?
Setiyo Hadi:
Ada yang perlu disamakan persepsinya, yaitu tentang makna industrialisasi itu sendiri.

Kencong News:
Maksud anda?
Setiyo Hadi:
Perubahan sosial ekonomi menjadi proses utama dilakukan dalam industrialisasi, yaitu terjadinya perubahan system mata pencaharian masyarakat agraris berubah menjadi masyarakat industry. Dalam masyarakat industry mempunyai cirri utama semakin beragamnya pekerjaan yang ditandai dengan spesialisasi dalam pekerjaan, serta gaji dan penghasilan yang tinggi.

Kencong News:
Apakan masyarakat Jember saat ini dan akan datang siap menghadapi proses industrialisasi?
Setiyo Hadi:
Industrialisasi sangat berkaitan dengan inovasi teknologi. Saya lihat, saat ini teknologi informasi sudah masuk ke pelosok dusun dan desa di seluruh Jember. Jaringan telepon seluler sudah masuk ke pelosok Jember, bahkan setiap orang sudah menggunakan HP sebagai alat komunikasi. Ini merupakan modal awal dari industrialisasi.
Masyarakat Jember sudah mampu mengakses dunia luar dengan kecanggihan selular maupun internet. Internet sudah masuk ke desa – desa. Sehingga saat ini sudah sedikit yang gaptek alias gagap teknologi. Yang jadi persoalan masyarakat Jember hanya menjadi konsumen dari produk-produk teknologi tersebut, belum mampu memproduksinya.
Masyarakat Jember sesungguh berada pada kondisi “pancaroba” atau peralihan yang rentan dengan berbagai permasalahan sosial.

Kencong News:
Apa yang dimaksud dengan kondisi “pancaroba” tersebut? Tolong jelaskan lebih jelasnya.
Setiyo Hadi:
Masyarakat Jember sedang berada dalam proses perubahan dari masyarakat agrari menuju masyarakat industry, jelasnya belum dalam fase industrial, Ibarat sudah musim kemarau menjelang musim hujan, tapi belum musim hujan, ini yang dimaksud dari musim pancaroba. Begitu pula kondisi pancaroba adalah kondisi peralihan dari masyarakat agraris menuju masyarakat industrial.
Masyarakat Jember masih berada dalam kultur agraris yang berada pada fase menuju masyarakat industrial. Seperti yang diungkapkan Jakoeb Oetama saat ini kita berada dalam dunia yang borderless, tanpa batas, tanpa sekat, terbuka dan trasparan, perbedaan dan kesenjangan disaksikan bersama dan mau tak mau menjadi kesadaran dan gugatan bersama.
Pada kondisi pancaroba ini kesenjangan social semakin terlihat menganga, bagaikan luka bakar akut tanpa adanya perban. Ketidak adilan di bidang ekonomi semakin nyata terlihat. Inilah yang menjadi pokok dari gugatan dan tentangan terhadap kebijakan industrialisasi yang belum diterangkan secara nyata.
Kondisi masyarakat Jember saat ini tidak dapat dilepaskan kondisi Nasional sejak timbulnya Krisis tahun 1997 yang mendorong Reformasi 1998. Krisis yang memunculkan reformasi merupakan puncak gunung es, hari demi hari sampai sekarang ini mulai jelas sosok gunung es tersebut.
Krisis dan Reformasi yang multidimensi memunculkan kondisi pancaroba sampai saat ini. Ekonomi pancaroba, social pancaroba, hukum pancaroba, politik pancaroba, serta kebudayaan pancaroba. Kondisi pancaroba ini menghadirkan konflik vertical dan horizontal yang berkepanjangan dapat menjadi ancaman disintegrasi bangsa. Kondisi pancaroba ini memunculkan suasana yang dilematis.


Kencong News:
Apa relevansinya kondisi pancaroba tersebut dengan kebijakan Bupati Djalal yang melakukan industrialisasi di Jember?
Setiyo Hadi:
Penentangan terhadap kebijakan Bupati Jalal berkaitan industrialisasi di Jember merupakan wujud dari kondisi dilematis dalam kondisi social yang pancaroba.
Pertama, Bupati Djalal menggulirkan kebijakan untuk industrialisasi di Jember dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya. Namun indusstrialisasi yang digulirkan Djalal belum diperkuat landasan konseptual yang mapan. Sekedar kegalauan Pak Djalal akan ketidakperdulian pemerintah pusat dan daerah tingkat propinsi tentang berbagai kebijakan di Jember yang saat ini Bupatinya adalah Djalal.
Kedua, penentangan terhadap kebijakan untuk industrialisasi di Jember pun menunjukkan kondisi dilematis masyarakat pancaroba, bahwa lontaran Pak Djalal itu menabrak Rencana Tata Ruang Pusat dan Propinsi serta rencana industrialisasi ini dianggap akan mengalihfungsikan banyak lahan sawah menjadi pabrik-pabrik.

Kencong News:
Lalu, setujukah anda terhadap kebijakan industrialisasi Pak Djalal ?
Setiyo Hadi :
Saya dukung 100% industrialisasi di Jember yang berbasiskan pada kultur masyarakat Jember. Industri yang berbasiskan kultur (industrial based culture) inilah yang dikembangkan dan cocok di Jember.
Kultur masyarakat Jember masih dalam kondisi pancaroba, masih dominan dalam kultur agraris. Sumber daya alam yang dominan untuk pertanian, perkebunan, serta peternakan-perikanan (baik laut maupun darat).Industri pertambangan masih rentan dengan penentangan dari masyarakat yang kuatir akan kerusakan alam.
Indusstri yang berbasiskan kultur dimaksud disini yang pertama adalah INDUSTRI PERTANIAN TERPADU. Industri pertanian terpadu telah diuji cobakan di Jepang – Cina. Kultur masyarakat Jember sangat cocok dengan pengembangan dan pembangunan INDUSTRI PERTANIAN TERPADU.
Kedua industi yang berbasiskan kultur perlu mendapat perhatian lebih serius INDUSTRI KREATIF. Industri kreatif ini berkaitan dengan aktivitas ekonomi yang berhubungan dengan penciptaan pengetahuan dan informasi.
Industri kreati bermula dari pemanfaatan hasil / produk kreativitas, keterampilan, serta bakat dan minat dalam upaya peningkatan kesejahteraan ekonomi dan social. Industri kreati berupaya mengeksploitasi daya kreasi dan cipta manusia yang terdiri dari periklanan, arsitektur, seni, kerajinan, desain, fashion, film, music, seni pertunjukan, penerbitan, serta penelitian dan pengembangan.
Perlu ditegaskan bahwa kita Dukung 100% industrialisasi di Jember yang berbasiskan cultural yang mengedepankan Industri Pertanian Terpadu dan industry kreatif.(KN-26102012)

IMPLEMENTASI LIFELONG LEARNING: Meluruskan Terminologi antara Lifelong Learning vs Longlife Learning dalam Transformasi Pendidikan dan Strategi Adaptabilitas di Era Disrupsi

By. YOHANIS SETIYO HADI (MAS YOPI) @EDUKATORTAMBENG E mail: setiyohadi2012@gmail.com 26.04.04 Abstrak Artikel ini membahas pentingnya im...