Sabtu, 01 September 2012

APAKAH SBY MENGALAMI POST POWER SYNDROM?: Presiden SBY dianggap Melakukan Kekerasan Psikis Verbal


TENTANG POST POWER SYNDROM:
Secara umum, orang yang mengalami post power syndrome sebenarnya diliputi rasa kecewa, bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa, ketergantungan, kekosongan, dan kerinduan. Selain itu, harga dirinya juga menurun, merasa tidak lagi dihormati dan terpisah dari kelompok. Semua ini biasanya tidak begitu disadari oleh yang bersangkutan.

Gejala ini umumnya terjadi pada orang yang tadinya mempunyai kekuasaan atau jabatan dan ketika jabatan itu sudah tak lagi dipegang, muncullah berbagai gejala psikologis atau emosional yang sifatnya kurang positif.

Beberapa gejala biasanya dapat dibagi ke dalam 3 ranah:
1. Gejala fisik, misalnya tampak kuyu, terlihat lebih tua, tubuh lebih lemah, sakit-sakitan.
2. Gejala emosi, misalnya mudah tersinggung, pemurung, senang menarik diri dari pergaulan, atau sebaliknya cepat marah untuk hal-hal kecil, tak suka disaingi dan tak suka dibantah.
3. Gejala perilaku, misalnya menjadi pendiam, pemalu, atau justru senang berbicara mengenai kehebatan dirinya di masa lalu, senang menyerang pendapat orang, mencela, mengkritik, tak mau kalah, dan menunjukkan kemarahan baik di rumah maupun di tempat umum  

Penyebab
Post power syndrome banyak dialami oleh mereka yang baru saja menjalani masa pensiun. Pensiun merupakan masa seseorang secara formal berhenti dari tugasnya selama ini, bisa merupakan pilihan atau keharusan.

Para pensiunan terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang bahagia karena dapat menyelesaikan tugas dan pengabdiannya dengan lancar. Sebaliknya, ada juga yang mengalami ketidakpuasan atau kekecewaan akan kehidupannya.

Sindrom ini bisa dialami oleh pria maupun wanita, tergantung dari berbagai faktor, seperti ciri kepribadian, penghayatan terhadap makna dan tujuan kerja, pengalaman selama bekerja, pengaruh lingkungan keluarga dan budaya. Berbagai faktor tersebut menentukan keberhasilan individu dalam menyesuaikan diri menghadapi masa pensiun. Post power syndrome merupakan tanda kurang berhasilnya seseorang menyesuaikan diri.

Tujuan bekerja tak hanya untuk memenuhi kebutuhan primer manusia, tapi secara psikologis, bekerja dapat memenuhi pencapaian identitas diri, status, ataupun fungsi sosial lainnya. Beberapa orang sangat menghargai prestise dan kekuasaan dalam kehidupannya, hal ini bisa diperoleh selama ia memegang jabatan atau mempunyai kekuasaan. Apalagi bila lingkungan kerjanya juga mengondisikan dirinya untuk terus memperoleh prestise tersebut, misalnya anak buah yang tak berani memberikan masukan untuk perbaikan atau adanya fasilitas berlebihan yang diberikan perusahaan baginya selama menjabat.

Masa pensiun bisa memengaruhi konsep diri karena pensiun menyebabkan seseorang kehilangan peran, status, dan identitasnya dalam masyarakat menjadi berubah sehingga dapat menurunkan harga diri. Bila anggota keluarga memandang pensiunan sebagai orang yang sudah tidak berharga lagi dan memperlakukan mereka secara buruk, bukan tak mungkin juga akan memicu munculnya sindrom ini.

Beberapa ciri kepribadian yang rentan terhadap post power syndrome di antaranya adalah mereka yang senang dihargai dan dihormati orang lain, suka mengatur, ”gila jabatan”, menuntut agar permintaannya selalu dituruti, dan suka dilayani orang lain.
Secara ringkas disebut sebagai orang dengan need of power yang tinggi. Selain itu, ada pula mereka yang sebenarnya kurang kuat kepercayaan dirinya sehingga sebenarnya selalu membutuhkan pengakuan dari orang lain, melalui jabatannya dia merasa ”aman”.

Sumber: http://kesehatan.kompas.com/read/2010/06/06/18500189/Post.Power.Syndrome



 WASPADA ONLINE


(merdeka.com)
JAKARTA - Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menilai teguran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terhadap anak-anak yang tertidur saat mendengarkan pidato Hari Anak Nasional, merupakan bentuk kekerasan verbal yang tidak patut dipertontonkan di ruang publik.

"Saya melihat ini kekerasan. Pelanggaran terhadap UU Perlindungan Anak yang masuk kategori kekerasan psikis verbal," kata dia kepada wartawan, hari ini.


Arist menjelaskan bahwa teguran yang dialamatkan kepada anak sangat bertolak belakang dengan pidato bertajuk Bersatu Mewujudkan Indonesia Ramah Anak yang digelar pada Rabu (29/8). Presiden sebagai panutan telah memberi contoh yang tidak ramah.

Lebih jauh, terang dia, kekerasan verbal demikian bisa berdampak pada perilaku negatif yang akan ditiru sang anak. Anak bukan tidak boleh ditegur, tapi harus dilihat dimana dan kapan boleh ditegur.

Pada acara tersebut, sambung dia, Presiden yang seharusnya mendengarkan semua aspirasi para generasi penerus bangsa. "Jadi akhirnya saya tahu bahwa presiden memang gak suka mendengar suara anak. Maunya dia didengar oleh anak dan itu ya kebalik."

Teguran Presiden SBY saat ia berpidato pada acara puncak peringatan Hari Anak Nasional 2012 di Theater Imax Keong Mas, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta Timur, Rabu lalu itu berifat edukatif.

"Itu adalah teguran yang sifatnya edukatif, mendidik. Jadi bukan itu dilihat sebagai teguran yang tidak mengandung unsur mendidik," kata Jubir Presiden, Julian Aldrin Pasha di Istana, Jakarta, hari ini.

Justru, menurut Julian, kritik yang disampaikan pengamat anak kepada SBY itulah yang berlebihan. "Kami kira itu yang sebetulnya berlebihan. Pandangan-Pandangan yang tidak mendidik seperti itu sebaiknya tidak diungkapkan atau disampaikan ke ruang publik," tandas Julian.

Karena, tegas Julian, teguran Presiden SBY itu tidak serta merta ditujukan langsung kepada anak-anak, tapi kepada semua, hadirin yang menyimak pidato tersebut. "Saya kira mungkin lebih baik kita menyebutnya bagi mereka yang merasa tertidur saat itu. Yang merasa bahwa itu adalah teguran yang ditujukan kepada dirinya," ungkapnya.

Ditambahkan Julian, teguran SBY itu juga bukan ditujukan kepada anak-anak. Terbukti, Presiden tidak mengatakan siapa yang tertidur itu. "Tapi bahwa ada satu-dua orang yang tertidur pada saat beliau menyampaikan pidato, ya  begitulah. Jadi ini sangat wise, sangat bijak," jelas Julian.

"Apa yang disampaikan oleh Bapak Presiden dengan kata-kata yang sangat mendidik juga. Saudara simak sendiri bagaimana kata itu disampaikan, tidak mendiskreditkan seseorang apalagi anak-anak," sambungnya. Karena pada kenyataannya, tambah Julian, Presiden sangat perhatian terhadap anak-anak.


Sumber:http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=258828:sby-lakukan-kekerasan-psikis-verbal-pada-anak-sd&catid=77:fokusutama&Itemid=131

Tidak ada komentar:

STORY LINE BOEMI POEGER (LANDSCHAP EN REGENTSCHAP POEGER) : Wilayah Sejarah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur – Indonesia

  Story Line BOEMI POEGER (LANDSCHAP EN REGENTSCHAP POEGER) : Wilayah Sejarah Kabupaten Bondowoso dan Kabupaten Jember Propinsi Jawa Timur –...